Rabu, 06 Juni 2012

Kenangan Terakhir

Hujan. Selalu hujan.


Beginilah keadaan kota Bandung. Sudah 1 bulan terakhir hujan terus menyapa kota ini. Hujan yang turun begitu deras membuat aktivitas orang-orang menjadi terganggu. Namun, Tuhan itu maha adil. Ia tak pernah lupa memberikan anugerah dibaliknya. Tuhan selalu menyajikan keindahan bagi setiap umatnya. Salah satu keindahan itu adalah “pelangi”.

Pelangi sering sekali muncul dipenghujung hujan sore hari. Warna-warnanya memberikan ketenangan bagi sebagian orang yang memang mengaguminya. Begitupun dengan gadis manis yang tengah duduk bersama sahabatnya di bawah naungan atap jerami. Pondok kecil yang sengaja dibangun di bawah pohon besar oleh kedua ayah mereka. Tempat itu mereka jadikan sebagai tempat tinggal mereka yang kedua. Di pondok itulah mereka sering habiskan waktu luang bersama.

. Mereka adalah dua orang yang begitu dekat. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di kelas 2 SD. Bahkan sampai sekarang mereka duduk di kelas 3 SMP, persahabatan itu masih kokoh terjalin. Dan tahun ini merupakan tahun terakhir mereka bersekolah di SMP.


Di dalam pondok kecil itu, mereka tengah asik menikmati hujan yang turun begitu tenang sambil sesekali bercanda.
bastian, atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan sian ini, tengah asik memandangi sosok gadis di sampingnya. Gadis itu adalah khairunisa, atau yang lebih dikenal dengan nisa.

“Eh, kenapa sian? Kok ngeliatinnya gitu?” tanya nisa yang sadar sian tengah memperhatikannya.
“Gak kok. Gue suka ngeliatin Lo. Apalagi setiap Lo lagi nengok ke langit. Manis” jawab sian sambil tetap memandangi nisa.

  nisa merasakan pipinya panas. Jantungnya berdetak begitu cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari mata sian .

“sian, liat keluar deh. Pelanginya sudah muncul” seru nisa mengalihkan topik pembicaraan.

  sian yang merasakan perubahan dari sikap nisa hanya tersenyum. Kemudian ia berdiri, mengikuti arah pandangan nisa.

“Tetep cantik” ucap sian sambil terus menatap pelangi lewat jendela kecil yang sengaja dibangun langsung menghadap ke langit.
“Iya, selamanya akan tetep cantik” balas nisa menanggapi.


“nis, kira-kira besok pelanginya masih muncul gak ya?” tanya sian tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Semoga aja” jawab nisa singkat.
“Gue berharap masih bisa liat pelangi sama Lo, nis . Gue takut gak bisa liat keindahannya lagi” ucap sian. Nada suaranya terdengar begitu memilukan.
“Lo ngomong apa sih? Kita pasti bisa liat pelangi itu besok, dan besoknya lagi. Gue sama Lo, kita berdua akan sama-sama ngeliatnya. Selamanya” ucap nisa mantap.

  sian menoleh dan tersenyum ke arah nisa.

“Lo ngaco nis. Kalau besok gak hujan, mana bisa pelangi muncul. Dan kalaupun besok turun hujan, gak pasti juga kan bakal ada pelangi” balas sian sambil tertawa.
“Habisnya Lo ngomong kayak gitu. Gue takut dengernya”
“Takut kenapa nis?”

nisa menoleh ke arah sian .

“Gue takut kalau nanti Gue ngeliat pelangi, Lo gak ada di samping Gue. Gue gak mau ngeliat pelangi sendirian” kata nisa sambil menatap ke dalam mata sian
“Gue juga. Tapi, cuma takdir yang bisa nentuin semuanya” balas sian.
“nis, pulang yuk. Ayah Lo ntar nyariin. Gue juga mau pulang nih, takut ayah marah” lanjut sian. nisa hanya mengangguk.


***


Hari ini adalah hari Minggu. Seperti biasa nisa dan sian berjalan-jalan sore dengan menggunakan sepeda. Kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak kecil. Dan karena itulah, mereka menyukai hari Minggu. Hari Minggu merupakan hari yang sangat mereka tunggu-tunggu.

“sian, kenapa sih setiap Gue ajak Lo lari pagi, Lo gak mau?” tanya nisa ketika mereka sudah sampai di taman komplek perumahan.
“Gue sibuk nis! Maaf ya” jawab sian seadanya.
“Sibuk apa? Kok sibuk terus?” tanya sian sedikit kesal.
“Gue kan mesti ke Gereja, Sayang!” kata sian manja.
“Ih, apaan sih. Pake sayang-sayang segala!” balas nisa seraya memukul pelan tangan sian. sian hanya terkekeh.

“Tapi bukannya Lo ke Gereja jam 10 ya? Gue kan ngajak lari pagi jam 7” tanya nisa lagi.
“Penasaran banget ya, nis? Kepengen banget nih lari pagi sama Gue? Apa jangan-jangan Lo.....” sian menatap nisa dengan tatapan menggoda dan senyum yang sengaja ia buat seakan mengejek.

“Ih, apaan sih! Udah deh. Lupain aja. Lo makin ngaco” balas nisa akhirnya.

“Pipinya merah tuh, nis!” goda sian lagi. Namun berhasil mendapat bogeman keras dari nisa. Yang kemudian mendarat tepat di atas kepalanya.
“Awwww!” jerit sian seraya memegangi kepalanya.
“Sakit ahh nis!” tambahnya lagi. sian pun memanyunkan bibirnya.

“ihh,, sian. Manyunnya lucu deh!” goda nisa . Dengan tampang tak berdosa, ia langsung berlari.

Tak terima dengan perlakuan nisa, sian langsung mengejarnya. Dan akhirnya terjadi aksi kejar-kejaran antara sian dan nisa selama kurang lebih 3 menit.

“nis.. Hosh, hosh .. Udahan deh” kata sian yang berhenti sambil memegangi perutnya karena kelelahan.
“Wah, sian gak asik. Baru sebentar juga. Gue aja gak cape” ejek nisa.
“.....” sian masih memegangi perutnya yang kesakitan.


“sian, Lo kenapa? Muka Lo pucet!” tanya nisa khawatir. Sekarang ia sudah berdiri di samping sian sambil memegangi punggung sian yang tengah membungkuk.

“Gue capek, nis. Perut Gue sakit” jawab sian pelan.
“Yaudah. Kita istirahat dulu deh di bangku taman. Sini biar Gue bantu” nisa membantu sian berjalan menuju bangku taman yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


“Gimana sian? Masih sakit?”
“Gak juga kok. Gara-gara Lo sih tadi larinya kekencengan!” balas sian pura-pura kesal.
“Huh, maaf deh. Gue gak tau kalo Lo mudah capek. Soalnya dulu kan Lo paling suka main kejar-kejaran. Malahan gak perlu waktu lama buat Lo dapetin Guenya. Tapi kok sekarang Lo berubah ya? Cepet capek gitu. Lo lagi sakit ya, sian?” nisa mencoba mengeluarkan sebagian unek-uneknya mengenai perubahan sikap dari sahabatnya selama ini.

  sian tak mengira nisa akan menyadari hal itu. Apa sikapnya begitu terlihat berubah di mata nisa?

“Gak semua orang bisa selalu kuat, nis. Pasti ada waktunya dia jadi lemah dan gak berdaya. Bahkan yang lebih mengerikan daripada itu mungkin aja terjadi” kata disn sambil memperhatikan kolam ikan yang berada di hadapan mereka saat itu.
“Yang lebih mengerikan???” tanya nisa tak mengerti. sian menatap nisa sebentar kemudian mengangguk. Setelah itu matanya kembali menatap ke dalam kolam ikan. Seakan ia mendapati sesuatu yang tak biasa disana.

“Saat orang itu lagi kritis menjelang kematiannya” jawab sian pelan tapi berhasil membuat nisa bingung untuk yang kesekian kalinya.


  nisa merasa akhir-akhir ini sian  sering berbicara aneh. Meskipun sulit untuk dicerna dan dipahami olehnya, namun ia merasa inti dari ucapan sian akhir-akhir ini adalah mengenai kematian. Ada apa dengan sian? Apa hubungannya sian dengan kematian? nisa tidak berani berpikiran telalu jauh. Ia tidak mau berpikiran negatif mengenai sahabatnya itu.

“Hmm, sian. Pulang yuk. Udah sore” kata nisa mengalihkan pembicaraan. sian hanya mengangguk.

“Gimana? Bisa bawa sepeda gak? Atau mau Gue boncengin?” tawar nisa lagi ,  sebelum mereka benar-benar meninggalkan taman komplek.

“Lo pikir Gue lemah banget apa?? Gue bisa sendiri kok, nisa Sayang! Gak usah terlalu khawatir gitu dong. Gue kan jadi terharu” jawab sian jail sambil melayangkan senyum genitnya ke arah nisa.
“sian !! Rese bener deh! Udah-udah, jangan ngomong lagi. Omongan Lo ngaco mulu” balas nisa yang mulai salah tingkah karena melihat senyum genit sian yang menurutnya sangat manis dan berhasil membuat jantungnnya loncat-loncat saat itu.
“Hehe.. Iya deh iya. Gue gak tega liat pipi Lo merah gitu” goda sian lagi.


“SIAN !!!!!!!!!!!!!” nisa yang sangat malu saat itu, langsung mencubit perut sian.


“Aww, pedes banget ini nis. Lebih pedes dari sakit Gue yang tadi” celetuk sian. nisa tidak menanggapinya. Ia malah beranjak pergi dan menaiki sepedanya.


“Daaadaaaah sian, nisa duluan yaaaaa!!!!!” seru nisa yang sudah mengayuh sepedanya, meninggalkan sian yang masih berdiri ditempat sambil bergumam tak jelas.

Menyadari nisa sudah pergi meninggalkannya, sian langsung menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan cepat.


“nisaaaa !!!!!! Tunggu siiiaaaann !!!!!” panggil sian sok manja.


  nisa yang sudah berada cukup jauh di depan sian , hanya berbalik dan menjulurkan lidahnya. Sedangkan sian hanya memanyunkan bibirnya kemudian tertawa kecil.

Di perjalanan pulang, mereka habiskan waktu dengan mengobrol dan sesekali bercanda. Beruntung saat itu sian sudah berhasil menyamakan jaraknya dengan nisa. Meskipun sebenarnya Inisa yang sengaja mengurangi kecepatannya. Karena ia melihat sian yang sudah kelelahan dan hampir jatuh karena kakinya tak sanggup mengayuh sepeda lebih cepat lagi.


***


Pagi ini seperti biasa sian dan nisa berangkat sekolah bersama. Selain karena mereka tinggal di komplek yang sama, rumah mereka juga berdekatan. Nomor rumah sian 12B, sedangkan nisa 14B. Karena itulah mereka berdua selalu berangkat bersama. nisa selalu menolak apabila ayahnya ingin mengantarnya, begitupun denMereka selalu memberikan alasan yang sama kepada orang tua mereka. Dan kedua orang tua mereka pun tidak melarang. Mereka sangat percaya dengan sian dan ify.

Seperti halnya tadi pagi sebelum mereka pergi sekolah. Orang tua mereka menawarkan untuk mengantar mereka. Tapi dengan mantap mereka menolaknya.


@ Meja makan rumah nisa
“nis, mau bareng Ayah? Kebetulan Ayah berangkat pagi” kata Ayah nisa sambil menuangkan susu coklat ke dalam cangkirnya.
“Gak, Yah! nisa sama sian udah jadi pelanggan tetap sama Mang Imang, supir Bus di depan gerbang komplek” tolak nisa halus.
“Oh, Yasudah. Hati-hati ya, nis” kata Ayah akhirnya.


@ Teras depan rumah sian
“Yah, sian berangkat ya!” pamit sian pada ayahnya yang saat itu sedang membaca koran sambil menunggu Pak Iyan selesai mencuci mobil di halaman rumah.
“Loh, gak bareng Ayah sian?” tanya ayah sembari melipat koran yang baru saja selesai ia baca.
“Gak, Yah! sian sama nisa berangkat naik Bus. Mang Imang kan udah jadi pelanggan tetap kita” jawab sian mantap.
“Yasudah kalau begitu. Tapi Kamu sudah sarapan kan tadi?” tanya ayah lagi.
“Sip Yah. Udah kok!” jawab sian
“Terus sudah Kamu bawa gak kotak sama botol....” belum sempat ayah melanjutkan ucapannya, sian memotongnya.
“Sudah, Yah! sian berangkat ya Yah. Udah ditunggu nisa” tanpa menunggu jawaban dari ayah, sian langsung berlari keluar.

---

  nisa dan sian berjalan sambil sesekali bernyanyi bersama. Dan “Ya Sudahlah” merupakan salah satu lagu favorite mereka. Sambil bergandengan tangan mereka mulai bernyanyi.

(sian)
Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai ya sudahlah

Reff:
Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok

(nisa )
Saat kau berharap keramahan cinta
Tak pernah kau dapat ya sudahlah
Dengar ku bernyanyi lalalalalalalaheyeyeyayaya
Dedum dedudedadedudidam hmm
Semua ini belum berakhir


Reff: (sian-nisa)
Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok


“Hahahahaha” sian dan ify tertawa bersamaan.
“Makin bagus suara Lo, sian!” puji nisa sambil menatap ke arah sian.
“Woyadong, bastian gitu” balas sian bangga.
“Wuuu.. Dasar!” balas nisa tak mau kalah.
“Haha, suara Lo kok makin cempreng ya, nis?” ejek sian. nisa melotot.
“Huh ! Bilang aja mau muji, tapi gengsi. Iya kan? wekk” nisa menjulurkan lidahnya.

“Haha.. Terserah Lo aja deh nis. Tuh Bus nya udah nunggu. Buruan!” sian langsung menarik tangan nisa. nisa yang ditarik-tarik hanya manyun dan mengumpat tak jelas.


***

“nis , tumben sian ikut gak makan di kantin? Biasanya kan dimana ada Lo pasti ada sian” tanya fiana sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kantin, mencari sosok sian

“Dia lagi ada rapat OSIS. Maklum kan ketos” jawab nisa sambil menyeruput es jeruknya.
“Haha.. Gak kesepian nih nis ditinggal sian?” goda fiana
“Yee.. Gak lah. sian rese gitu masa dikangenin” balas nisa bergidik.
“Biar rese tapi Lo suka kan?” goda Shilla lagi.
“Ahh, fianaaa!!!!” teriak nisa gemas.
“Hehe.. Iya deh, Iya.. By the way, Lo beneran gak ada rasa sedikitpun ya sama sian? sian kan cakep, keren, pinter, suaranya bagus lagi. Terus kalian kan udah sahabatan dari kecil. Kelihatannya sian juga suka sama Lo” berondong fiana

Mendengar pertanyaan dan pernyataan fiana barusan, nisa terdiam. Ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya kepada sian. Jujur sebenarnya nisa memang menyukai sian sejak lama. Tapi ia tidak tahu makna dari rasa sukanya. Apakah itu cinta atau sekedar rasa kagum.

“Gak tau juga nih, fi. Gue sendiri bingung” jawab nisa. Matanya terlihat sedang menerawang seakan mencari kepastian untuk ucapannya tadi.


TEEET.. TEEET.. TEEET
Bel pertanda waktu istirahat berakhir berbunyi. Semua murid berlarian menuju kelasnya masing-masing. Dan dalam waktu kurang dari 3 menit, suasana kantin yang tadinya ramai, sekarang berubah menjadi tempat yang begitu sepi. nisa dan fiana pun sudah beranjak dari tempat mereka.


***


Kegiatan sekolah sudah berakhir 10 menit yang lalu. nisa berniat menunggu sian di halaman depan sekolah. Namun sudah 5 menit nisa menunggu, tapi sian belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena kesal, akhirnya nisa beranjak pergi ke kelas sian. Berharap semoga sian ada disana.

“iqbaal!!” panggil nisa setelah melihat iqbaal keluar dari kelasnya yang kebetulan juga merupakan kelas sian.
“Kenapa nis?” sahut iqbaal yang sekarang sudah berada tepat di depan nisa.
“Lo liat sian gak?” tanya nisa to the point.
“sian?? Tadi dia langsung keluar waktu bel bunyi. Gak tau deh kemana. Tapi setau Gue sih siam itu pasti ke toilet sebelum pulang sekolah. Mending coba Lo cari disana. Kali aja ada” jawab iqbaal
“Oh, Ok. Thanks ya, bal”
“Yap. Sama-sama”

Tanpa berpikir lagi, nisa langsung berlari menuju toilet laki-laki yang letaknya tak begitu jauh dari kelas nisa

Sesampainya di depan toilet, nisa bertemu dengan aldi, sahabat dekat sian. Kebetulan tadi aldi baru keluar dari toilet. Dan entah kenapa, nisa sekilas mencium bau obat bersamaan ketika aldi keluar tadi.

‘Bau obat? Ah, bodo ahh’ piker nisa.

“di, Lo liat sian gak di dalem?” tanya nisa
“Ada kok di dalem. Tapi Lo gak usah masuk, tunggu disini aja” jawab aldi
“Loh ?? Emang kenapa?” tanya nisa lagi.
“Yeee.. Lo mau masuk toilet cowok?”

‘Oh, iya ya. Bego Gue’ batin nisa merutuki dirinya sendiri.

“Hehe.. Iya Gue lupa. Yaudah deh. Emang Rio ngapain sih di dalem?” tanya nisa yang masih penasaran.
“Lo tanya aja sama siannya sendiri” jawab aldi santai.
“Gue duluan ya,nis. Bye!” lanjutnya, kemudian berlalu meninggalkan nisa yang sudah manyun ditempat.

“Huh, dasar. Temen-temen sian pada sok cool semua” umpat nisa kesal.

Tak lama setelah aldi pergi, sian keluar dari tempat persembunyiannya (?). Melihat nisa yang sedang bergumam tak jelas, sian langsung mendekatinya dan menyapanya.

“Woy. Ngapain disini?” kaget sian.
“Ah, sian Rese!! Upsss” latah nisa. Sontak ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Ciee, latah aja sempet nyebut nama Gue. Gue tau kok nis kalo Gue itu ngangenin! Tapi jangan segitunya juga dong. Gue kan malu!” ucap sian narsis. Nisa yang mendengarnya hanya bergidik.
“Ihhhh.. Najong banget deh,sian !” balas nisa
“Huh!! Eh ngapain Lo disini?” sian mengulangi pertanyaannya.
“Menurut Lo Gue mau ngapain? Bukannya Lo yang tadi pagi ngajak pulang bareng? Gue sampe jamuran tau nunggunya. Gue nunggu Lo di halaman depan, tapi Lo nya gak muncul-muncul. Terus Gue tanya iqbaal katanya Lo di toilet. Terus barusan Gue ketemu aldi, si cowok yang sok cool. Kayak orang bego Gue nunggu Lo!” celoteh nisa panjang kali lebar (?).


sian hanya menahan tawa mendengar celotehan nisa Sebenarnya hal yang sangat disukai sian adalah ketika melihat nisa berperilaku seperti tadi. Saat nisa berceloteh, saat nisa marah-marah, saat nisa cerewet, dan saat nisa manyun. Di mata Rio, melihat semua itu merupakan kesenangan tersendiri untuknya. Dan hal itu juga yang membuat sian tidak ingin mengakhiri hari-harinya tanpa nisa


“Lo dengerin Gue gak sih?” seru nisa  yang melihat sian senyum-senyum sendiri.

sian tersadar dari lamunannya.

“Eh, iya iya. Gue denger. Yaudah,nis. Pulang yuk!” ajak sian. nisa hanya menatap sian bingung. Namun, akhirnya ia menurut dan mengekor sian di belakang.


***


“Kak sian! Bantu Acha ngerjain PR dong” panggil Acha, adik sian
“Kakak!” panggil Acha lagi sambil mengetuk pintu kamar sian dari luar. Namun, tak ada jawaban dari sian.

“Kak sian!” panggil Acha untuk yang kesekian kalinya.

Perasaan Acha mulai tidak enak. Ia mengetuk pintu kamar kakaknya itu lebih keras lagi. Namun, tetap tidak mendapat jawaban dari si empunya kamar. Dengan segenap keberaniannya, Acha menggerakkan tangannya ke gagang pintu dan membukanya.

“Gak dikunci” gumam Acha pelan.


Setelah berhasil masuk, Acha mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kamar untuk mencari sosok sian. Perasaan Acha semakin tidak enak. Berkali-kali ia memanggil nama kakaknya itu.
Setelah berjalan dan sampai di samping tempat tidur, Acha terkejut. Matanya membelalak, jantungnya berdegup sangat kencang, air matanya seakan ingin sekali menetes. Acha tak kuasa melihat apa yang sekarang ada di hadapannya.

sian tersungkur tak berdaya di samping bawah tempat tidur. Darah yang masih segar mengalir dari hidungnya. Kaki Acha lemas seketika. Tak mampu menahan beban tubuhya, akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di lantai. Dengan lirih ia memanggil nama kakaknya itu.


“Kak.... Kak sian, bangun Kak!” panggil Acha seraya menggerakkan tangan sian yang dingin.

Tak ada jawaban dari sian.


“AYAH!!!!!” teriakan Acha pecah. Suaranya terdengar bergetar.


***

Matahari pagi kembali menampakkan kehadiran dan sinarnya. Cahayanya menerobos masuk ke dalam ruangan bercat putih. Dua orang, satu pria dan satu wanita yang saat itu mengenakan pakaian serba putih semakin membuat kontras. Suasana pagi di wilayah itu sudah cukup ramai. Beberapa wanita yang juga berpakaian serba putih berjalan sambil mendorong sesuatu. Bau rumah sakit semakin tercium nyata.


“Arggghhh!” erang seseorang yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.

“Dok, pasien sadar!” seru wanita yang ternyata seorang suster kepada atasannya.

Dokter pun menghampiri dan memeriksa keadaan pasien yang baru sadar itu.

“sian ? Sudah merasa baikan?” tanya Dokter itu ramah.
“Dokter Bayu... Hm, iya Dok. Saya nginep disini lagi ya Dok?” jawab dan Tanya sian.
“Iya, kamu sudah hampir 1 bulan tidak sadarkan diri” ujar Dokter yang ternyata bernama Dokter Bayu itu.
“Oh ya? Ayah, Mama, Acha dimana Dok?” tanya sian lagi.
“Mereka baru saja pulang”
“oh” balas sian singkat.
“Yasudah. Dokter tinggal dulu ya,sian ! Masih ada kerjaan” ujar Dokter Bayu.
“Baik, Dok. Terima kasih” balas sian sambil tersenyum.

Tak lama setelah Dokter berlalu, aldi datang.

“Hai,sian ! Gimana keadaan Lo?” tanya aldi langsung.
“Baik kok. Lo gak sekolah?”
“Yee.. Dasar pikun Lo. Kelamaan tidur sih, jadi lupa hari. Ini kan hari Minggu dodol!” jawab aldi yang sekarang sudah duduk di kursi samping tempat tidur sian.
“Hahaha.. Lupa Gue, Bro! Oh ya, Lo gak bilang nisa atau yang lain kan?” Tanya sian.
“Gak kok” jawab aldisingkat.
“Bagus deh!”

“sian, sampai kapan sih Lo mau bohongin mereka? Terutama nisa. Lo gak tega?”
“Habis mau gimana lagi di? Gue gak mau mereka khawatir. Dan nisa, Gue gak mau dia sedih” jawab sian
“Tapi,sian. Cepet atau lambat nisa harus tau” ujar aldi lagi.
“Iya Gue tau kok. Gue pasti kasih taunisa . Tapi gak sekarang” balas sian. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit.

aldi hanya diam mendengar ucapan sian. Ia bingung harus berkata apa lagi untuk meyakinkan sahabat  baiknya itu.

“Penyakit ini sudah makin parah, di. Gue takut bakal ninggalin semua orang-orang yang Gue sayang” ucap sian pelan.
“Lo gak akan ninggalin kita sian. Lo harus semangat. Lo pasti sembuh” aldiberusaha menyemangati sian.
“Gak akan ada harapan lagi di . Gue juga udah cape banget sama penyakit ini. Jantung Gue udah digerogotin, sampai buat berdetak sekali aja susah” kata sian lirih.
“Yang sabar ya sian ! Tuhan pasti kasih anugerah dibalik semuanya” aldi menepuk pundak sahabatnya. Mencoba memberikan kekuatan untuknya.
“Semoga aja,di”


bastian bintang simbolon adalah sosok laki-laki yang berusaha memberikan ketenangan untuk semua orang yang disayanginya, walau sebenarnya ia sangat rapuh. Di balik senyumnya ia menangis, di balik tawanya ia merintih, dan di balik ketegarannya ia hanyalah orang yang lemah, tak mampu berbuat apa-apa selain menyembunyikan ketidaksempurnaannya.

Sejak kecil sian mengidap penyakit yang sangat menyedihkan. Penyakit yang menyerang organ jantungnya. Jantung sian sangat lemah dan kronis. Sudah 13 tahun penyakit itu bersarang di tubuhnya. Dan selama 13 tahun itu pula sian berperang melawan rasa sakit yang membuatnya tidak tahan untuk hidup lebih lama lagi.
Sudah berkali-kali sian menyerah dengan hidupnya. Namun, sian sadar ia masih belum mampu meninggalkan orang-orang yang begitu menyanyanginya.

Ayah, Mama, Acha, aldi dan nisa. Mereka adalah orang-orang yang membuat sian berusaha untuk tetap hidup. Mereka adalah orang-orang yang sangat berarti untuknya.  Dan karena mereka pula, sian masih bersemangat selama ini.
Dokter sudah mengatakan bahwa kesempatan sian untuk hidup sangatlah tipis. Sian tidak terkejut mendengar hal itu. Namun bagaimana dengan semua orang yang disayanginya? Ia tidak tega melihat mereka sedih.
Keluarga sian dan aldi sangat terpukul ketika mengetahui samuanya. Tapi semakin lama mereka juga semakin bisa menerima takdir yang digariskan Tuhan untuk sian. Mereka sadar, tangis dan kesedihan mereka hanya membuat sian semakin lemah dan terpukul. Saat ini yang dibutukhkan sian adalah dukungan dan semangat dari mereka.


“sian , Gue pulang dulu ya. Cepet sembuh” ujar aldi akhirnya, setelah tadi ia menemani sian selama kurang lebih 30 menits.
“Ya, thanks ya di” aldi hanya mengangguk. Sejurus kemudian ia pergi meninggalkan sian yang masih terbaring lemas di tempat tidur.


***


Sore ini, Acha mengajak nisa untuk bertemu di taman komplek. Mereka sudah duduk di bangku panjang. Tempat dimana sian dan nisa sering menghabiskan waktu berdua setiap hari Minggu sore.

“Kenapa Cha kamu nyuruh Kakak kesini?” tanya nisa memulai pembicaraan.
“Hmm.. Ada yang mau Acha omongin Kak” jawab Acha.

Suasana sore itu terasa sangat dingin. Tapi nisa tidak merasakannya. Ia merasa sebaliknya, suasana begitu panas. Di tambah lagi ia merasakan ada hal yang tidak beres hari ini.

“Ngomong apa?” tanya nisa penasaran.
“Masalah Kaksian , Kak” suara Acha terdengar gugup.
“sian ? Dia kenapa? Dia sudah balik ya dari Jakarta?” berondong nisa


Ya, Acha memang sempat berbohong dengan nisa masalah sian. Ia mengatakan bahwa sian sedang menjenguk neneknya di Jakarta. Padahal saat itu sian sedang tak sadarkan diri di rumah sakit.
Acha sudah pernah berjanji dengan kakaknya itu, bahwa nisa tidak boleh tau tentang penyakitnya. Dengan terpaksa Acha harus berbohong. Namun, Acha sudah lelah menutupi semuanya. Nisa harus tahu yang sebenarnya. Karena itu, ia mengajak nisa bertemu di taman komplek.

“Kak sian gak pergi ke Jakarta. Maaf Acha udah bohongin Kak nisa ” kata Acha. Matanya sudah berair, namun belum sampai menetes.
“Maksud Kamu?” nisa mulai tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Acha.
“Kak sian di rumah sakit. Kak sian kritis selama 5 hari. Dan 4 hari yang lalu Kak sian baru sadar. Kak sian minta supaya Kak nisa jangan dikasih tau masalah penyakit Kak sian . Kak sian gak mau Kak nisa sedih” cerita Acha panjang lebar. Suara Acha terdengar lirih saat itu.

“Kata Dokter, penyakit Kak sian sudah gak bisa disembuhin” lanjut Acha. Air mata sudah membanjiri pipi mulusnya.


nisa yang mendengarkan cerita Acha, hanya bisa diam terpaku. Ia tak habis pikir dengan kenyataan yang menyakitkan itu. Semua keganjalan hatinya terjawab sudah. Sian yang berubah selama ini ternyata karena penyakit yang dideritanya. Dan ucapan sian yang sangat aneh akhir-akhir ini, menandakan bahwa ia benar-benar akan menghadapi kenyataan itu. Kenyataan mengenai kematian.

nisa sangat terkejut. Kakinya lemas, hatinya sangat perih mendengar semua itu. Dadanya sesak. Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengalir.

“sian .. Orang ngeselin itu punya penyakit? Orang yang sok itu bisa sakit?” nisa bergumam lirih.

Seakan memahami kepedihan hati nisa, Acha langsung memeluk nisa. Nisa hanya diam tanpa membalas pelukan Acha. Tangannya seperti kaku untuk di gerakkan.

“Kak nisa , maafin Acha baru bilang semuanya sekarang” ujar Acha pelan masih dengan isakan tangis.
“Gak Cha. Bukan salah kamu kok. Ini semuanya salah abang kamu yang sok kuat itu. Kakak kamu ngeselin banget , Cha. Dia gak mau cerita sama kakak. Padahal kan kita temenan udah lama. Dia anggap kakak ini apa? Patung?” celoteh nisa kesal. Suaranya terdengar sangat bergetar.

Acha melepaskan pelukannya dan menatap mata nisa.
“kak nisa ....” belum sempat Acha melanjutkan ucapannya, nisa langsung memotongnya.
“Tolong bilang sama kakak Kamu. Kak nisa tunggu dia hari Minggu pagi di pondok” ucap nisa , ait matanya masih mengalir.
“Tapi kak....”
 “Cha, Kakak pergi dulu. Salam buat Kak sian”

Tanpa menunggu jawaban Acha, nisa langsung pergi. Hatinya sakit sekali. Ia lemah sekarang. Tanpa sian ia seperti raga tak bernyawa. Sian sudah menghancurkan semua harapannya. Harapan yang tidak akan bisa untuk diraih lagi.


***


Hari ini tepat hari Minggu. Nisa sudah berada di pondok kecil, tempat dimana ia sering menghabiskan waktu dengan sian. Setelah 30 menit menunggu dengan sabar, akhirnya orang yang diharapkannya pun datang.
sian datang dengan menaiki sepeda. Hari ini sian tidak terlihat seperti orang sakit. Ia sangat sehat. Apa yang dikatakan Acha tidak benar. Sian sakit? Tapi keadaannya sekarang tidak begitu. Sian tidak terlihat sakit atau semacamnya. Nisa berharap semoga yang dikatakan Acha minggu lalu sama sekali tidak benar.


“Hai nis ? Udah lama?” Tanya sian .
“Lumayan lama” jawab nisa singkat.
“Kok jutek gitu?” tanya sian lagi.
“Menurut Lo?” nisa balik bertanya.
“Hmm.. Masalah penyakit? Gak usah di bahas sekarang deh. Mending kita main” ajak sian.

nisa yang mendengar ajakan sian tadi, langsung melotot.

“Main?” tanya nisa bingung. Sian mengangguk.
“Tapi kan Lo....” ucapan nisa terpotong.
“Kan udah di bilang, masalah penyakit ntar aja di omonginnya” ujar sian gemas.
“Terus kita mau main apa?” tanya nisa lagi.
“Kita keliling pakai sepeda aja. Gue yang boncengin Lo deh”


Akhirnya nisa dan sian berjalan menggunakan sepeda. Mereka berkeliling komplek. Sian benar-benar tidak terlihat seperti orang sakit. Bahkan sian selalu mengajak nisa bercanda selama di perjalanan. Nisa pun tak bisa menahan tawanya. Mereka sangat menikmati pagi itu.

Selesai besepeda, sian mengajak nisa ke danau yang letaknya dekat dengan taman komplek. Nisa pun menurut. Sesampainya di danau, sian dan nisa menyewa perahu. Mereka berdua mendayung perahu itu bersama. Sambil  mendayung, mereka mengobrol dan bercanda satu sama lain. Suasana siang itu pun terasa sangat menyenangkan.

Setelah 1 jam berada di perahu, sian langsung mengajak nisa ke bukit. Di bukit itu mereka kembali asik dengan canda dan tawa. Mereka berlarian kesana kemari, bermain kejar-kejaran, dan bernyanyi bersama. Nisa  sampai lupa beberapa minggu yang lalu saat sian kesakitan ketika bermain kejar-kejaran dengannya. Tapi hari ini sian tidak kesakitan seperti waktu itu. Dan nisa semakin yakin, semua yang dikatakan Acha salah besar. Sian baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Nisa sangat bersyukur karena semua itu.


“sian, harinya ujan nih. Neduh dulu yuk disana!” nisa menunjuk bangku  panjang yang beratapkan seperti jamur.

Setelah mereka duduk, sian  langsung  melepaskan  jaketnya dan memberikannya ke nisa.

“Loh? Buat apa sian ?” tanya nisa bingung.
“Pake! Harinya dingin” jawab sian singkat.

nisa hanya mengangguk dan segera mengenakan jaket sian .
Suasana hening. Hanya terdengar bunyi hujan yang menapaki tanah.

“nis, jam berapa sekarang?”Tanya sian kepada nisa.
“Jam 5 sian” jawab nisa setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.



“Uhuk.. Uhuk !!” suara batuk sian yang terdengar serak memecah keheningan sore itu.

“Kenapa sian ?”
“Gak kok. Cuma batuk” jawab sian sambil tersenyum.

nisa merasa bibir sian  sekarang pucat tidak seperti tadi.

“Hmmm.. nis ?” panggil sian
“Ya? Kenapa ?” sahut nisa.
“Masalah penyakit, Kamu masih mau denger?” tanya sian.

‘Sejak kapan sian ngomong pake “Kamu”?” pikir nisa bingung.


“Penyakit? Lo gak lagi sakit kan?” nisa balik bertanya. Perasaannya mulai takut.
“Wah, ternyata obat dari Dokter Bayu bener-bener manjur. Hebat ya!” sian malah bercerita tak jelas sambil tersenyum.

“Obat? Dari Dokter Bayu? Maksud Lo apa sian ?” nisa mulai bingung.
“Ya, Dokter Bayu kasih Aku obat supaya Aku bisa kuat hari ini. Meskipun Cuma untuk hari ini. Soalnya dosis obat itu gede banget! Karna Aku mau ketemu Kamu, jadinya Aku paksa-paksa tuh Dokter supaya mau kasih obatnya. Padahal mama, ayah, sudah ngelarang keras. Tapi Cuma ini satu-satunya cara buat bisa ketemu dan main sama Kamu” terang sian sambil sesekali tertawa kecil. Meskipun tawanya tidak terdengar seperti biasa.

nisa yang mendengarkan penjelasan sian langsung mengusap matanya yang sudah mulai berair. Ternyata apa yang nisa pikirkan salah. Sian benar-benar sedang sakit. Nisa takut kalau hari ini merupakan hari terakhirnya bertemu dengan sian. Nisa tidak akan sanggup.

“nis, kok diem?” panggil sian sambil mengangkat dagu nisa yang tertunduk.
“Kamu nangis nis?” tanya sian lagi.

“Lepasin,sian !” nisa berkata lirih sambil menepis tangan sian.
“Lo tuh tega,sian. Gue sudah seneng banget hari ini. Gue pikir Lo itu sembuh. Bahkan Gue pikir Lo sama sekali gak sakit” ucapan nisa terputus. Ia menarik nafas sejenak untuk melanjutkan ucapannya.
“Tapi ternyata salah. Salah besar. Gue kecewa sama Lo. Kenapa Lo gak bilang dari tadi? Kalo Gue tau, Gue gak akan mau diajak jalan sama Lo!” lanjut nisa  sambil menatap ke arah sian yang sedang menyenderkan tangannya ke atas paha sembari menatap ke tanah.

“Justru itu. Kalo Aku bilang, Kamu pasti nolak. Dan Aku gak mau usahaku sia-sia setelah minum obat dari Dokter Bayu” timpal sian.

“Tapi,sian...” nisa tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.

“nisa ,  pasti Acha udah ceritakan tentang penyakit itu. Maaf  nis, kamu harus denger dari orang lain. Karena aku emang gak sanggup buat kasih tau semuanya” tatapan sian masih belum beranjak dari tanah di hadapannya.

nisa hanya diam menunggu ucapan sian selanjutnya. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia takut akan menangis kalau ia berbicara lebih banyak lagi.

“Penyakit yang menyerang jantung itu ternyata menyiksa banget,nis.. dan beruntung Tuhan masih bersedia kasih Aku kekuatan selama 13 tahun. Dan sampai sekarang aku bisa duduk sama kamu juga karna kekuatan yang Dia kasih. Meskipun  mungkin kekuatan itu Cuma sampai hari ini”

‘sian , Please. Jangan bilang kayak gitu. Gue takut, sian . Takut!’ jerit nisa dalam hati.

“Dokter bilang jantung  Aku kronis. Penyakitnya pun gak jelas apa namanya. Padahal sudah hampir berpuluh-puluh kali Dokter kasih tau nama penyakitnya ke aku. Tapi satu detikpun aku gak bisa inget namanya. Ribet buat nyebutinnya. Cardiovas apalah itu. Kalau kamu mau tau, mending tanya aja sama Dokter Bayu” sian terkekeh.


nisa tidak menanggapi candaan sian. Ia masih sibuk mengatur nafasnya yang begitu sesak setiap mendengar ucapan sian yang semakin lama semakin serak terdengar di telinganya.

“Maaf ya nis, aku selalu bohong sama Kamu. Aku selalu nolak setiap kamu ajak lari pagi hari Minggu. Dan alasanku pasti bilang mau ke Gereja. Semuanya gak bener. Setiap Minggu pagi aku ada jadwal buat Therapy di rumah sakit” sian berkata apa adanya.

nisa yang kaget dan marah mendengar pengakuan sian itu, hanya mampu diam. Tak mampu memarahi sosok sian saat ini.


“nisa , kamu orang yang bikin aku tetap bertahan sama penyakit ini setelah ada ayah, mama, Acha, dan aldi”

nisa menoleh menatap sian. Tapi sian yang ditatapnya masih tidak beranjak, ia tetap menatap ke bawah.

‘Ada apa sih di bawah sana,sian ? Apa kamu lagi liat malaikat? Apa malaikat lebih mau kamu liat, ketimbang aku yang bakal kamu tinggalin sekarang?’ batin nisa sesak.


“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk” batuk sian terdengar lebih keras dan serak dari yang tadi. Bahkan suaranya menandingi suara hujan yang turun saat itu.

“sian...” panggil nisa lirih.

nisa berniat memberikan sapu tangannya kesian , tapi sian menolaknya.

“Gak,nis. Sapu tangan kamu  nanti kotor” balas sian.

Suara batuk sian terdengar lagi. Bahkan semakin keras. Nisa ingin membantunya, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk sian
sian menutupi mulutnya dengan tangan. Setelah merasa baikan. Sian  menjauhkan tangannya, dan meliriknya sekilas.

‘Darah? Sial, jangan sekarang Tuhan, aku mohon’ batin sian menjerit.

nisa yang melihat tangan sian penuh darah langsung mendekatinya.

“sian! Darah!” seru nisa panik.

Dengan cepat njsa merogoh kantong celanya untuk mengambil sapu tangan. Tanpa rasa jijik sedikitpun, nisa membersihkan tangan sian yang penuh oleh darah.

“nisa, , sapu tangan kamu kotor!” kata sian yang kaget nisa memegang tangannya dan membersihkan darahnya.

“Gak apa-apa sian ” jawab nisa singkat.

Setelah darah di tangan sian benar-benar bersih, dan sian juga sudah tidak batuk-batuk lagi,  nisa langsung memeluk sian.

“sian..Aku mohon jangan pernah lakuin hal kayak gini lagi..” suara nisa terdengar serak. Air matanya mengalir mulus di pipinya.

“Kamu anggap aku ini apa sian ? Kenapa kamu baru kasih tau semuanya sekarang? Kenapa kamu gak kasih aku kesempatan buat kasih yang terbaik untuk kamu?” pelukan sian makin erat. Sian tidak kuasa membalasnya. Ia biarkan perempuan cantik ini mengeluarkan segala unek-unek hatinya.

“Aku juga mau ngerasain sakit yang kamu rasain. Tapi kamu gak pernah mau bagi rasa sakitnya ke aku. Kita ini sahabat sian ! Harus saling berbagi kan?” tanya nisa  lirih. Air matanya masih terus mengalir.

sian melepaskan pelukan nisa perlahan, kemudian menatap lurus ke dalam mata bening nisa yang basah.

“Kamu sudah kasih aku yang terbaik nis. Kehadiran kamu di samping aku itu udah lebih dari cukup. Thanks ya nis” kata sian. nada suaranya mulai lemah.

nisa tak kuasa menatap mata sian yang seakan sedang menahan matanya agar tidak tertutup rapat.


“Errrrggggghhh..!” sian mengerang keras sambil memegangi dadanya.

“sian!!! Kenapa? Yang mana yang sakits sian?” tanya nisa panik.

“Disini nis ... Sakit banget!” erang sian lemas.


nisa langsung memegang dada sian tepat di atas tangan sian . nisa merasakan tangan sian begitu dingin. Dingin sekali.

“Gimana sian? Udah lebih baik?” tanya nisa  khawatir.

sian bukannya menjawab, malah menggerakkan tangannya yang lain ke tangan nisa yang tepat berada di atas tangannya yang tadi berada di dadanya.

“Malah lebih parah nis . Jantung aku makin ngejerit-jerit. Kamu bisa ngerasain kan detakannya yang cepet banget?” tanya sian sambil menatap mata nisa.

nisa hanya mengangguk.
Benar kata sian, jantungnya malah berdetak cepat sekali.

“Kamu tau apa maksudnya?” tanya sian lagi, suaranya semakin lemah. Nisa menggeleng.

“Aku cinta kamu nis” ucapan sian yang pelan seakan menusuk hati nisa sampai ke dalam.


‘Kenapa kamu baru bilang itu sekarang? Kenapa? Apa ini kenangan terakhir dari Kamu, sian ? Aku gak sanggup. Bener-bener gak sanggup’ batin nisa sedih.

nisa tidak sanggup menatap mata sian lagi. nisa tak kuasa membiarkan tangannya terus berada di dada sian yang sekarang berdetak semakin lemah.

“sian, kamu cape?” tanya nisa mengalihkan perhatian.
“Banget nis” Suara sian hampir tak terdengar.
“Kita pulang yuk! Mumpung hujan sudah reda” ajak nisa.
“Gak nis, aku mau disini. Kita lihat pelangi dulu. Bukannya kamu bilang gak mau liat pelangi tanpa aku? Sebelum semua itu bener-bener terjadi, aku mau liat pelangi sama kamu. Aku yakin pelangi yang muncul hari ini akan jadi pelangi paling indah dalam hidupku juga hidup kamu” siamberkata seperti sedang berbisik. Tatapannya lemah tak berdaya.

nisa  merasakan ucapan sian adalah ucapan perpisahan. nisa juga merasakan hawa tak enak mulai menderanya.

‘Apa bener orang di sampingku ini sian? Bener-bener berbeda dari sian yang dulu bahkan jauh berbeda dari sian yang tadi pagi. Tuhan, jangan sekarang aku mohon’ batin nisa.


“sian, kalau kamu cape, kamu boleh sanderan di bahu aku” kata nisa sambil memandang sian sedih.

sian tidak menjawab. Mungkin karena suaranya sudah benar-benar habis. Sian langsung bersandar di bahu kanan nisa.

“nis?”  panggil sian pelan.
“Kenapa sian?”
“Kamu gak mau.... bilang....apapun ke aku?” suara sian terputus-putus.
“Kamu mau aku bilang apa? Aku pasti bilang sekarang juga”

“Boleh aku minta kamu bilang I LOVE YOU buat aku?” pinta sian lagi. Ucapannya terdengar lancar, tidak seperti tadi. Meskipun masih dengan suaranya yang lirih dan pelan.

nisa mengangguk.


“BASTIAN BINTAN SIMBOLON , AKU CINTA KAMU. I LOVE YOU, SIAN” nisa berkata tulus dari dalam hatinya. Dan ia berharap semoga sian bisa memahami ketulusan dari ucapannya.

“Makasih khairunisa. Ucapan itu... ucapan terindah ...dalam hidupku” sian tersenyum getir di bahu nisa.

“Mau denger aku nyanyi sian?” tawar nisa kepada sian yang sedang memejamkan matanya.

“Mau nis!” balas sian masih dengan mata terpejam.

 ‘Mungkin Cuma ini yang bisa aku persembahin buat kamu bastian ku. Semoga kamu suka. Lagu favorite kita’ kata nisa dalam hati.


Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai ya sudahlah

Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok


Suara Ify melemah. Tangan sian jatuh tak berdaya di bangku. Ia menatap sian yang sedang tidur di bahunya, bibir sian pucat, badannya terasa begitu ringan dan lemas. nisa menangis pelan. Seakan tidak mau sian terganggu dan terbangun karenanya.


“sian.. bastian .. Pelanginya sudah muncul. Pelangi yang kamu tunggu sudah ada di langit” ucap nisa sambil tetap menangis.

“sian! katanya kamu mau liat pelangi sama aku? Itu sudah muncul,sian!” ucap nisa lagi. Meskipun ia tahu semua itu tidak ada gunanya, tapi nisa tetap berharap sian bangun dan menatap pelangi itu bersama-sama.

“Aku Cinta Kamu, bastian” kata nisa lirih sambil mengenggam tangan sian  yang sudah mulai kaku dan dingin.


***


Pemakaman sian berjalan lancar dan khidmat. Semua yang berada disana terlihat begitu sedih dan terpukul. Mama sian  belum berhenti menangis di pelukan ayah sian.
nisa yang juga merasa terpukul hanya mampu menyandarkan kepalanya di bahu fiana sambil menangis.

“nisa, yang tabah ya” ujar fiana seraya mengusap lembut punggung nisa.

“nis, ini pemberian dari sian buat Lo. Dan sian mau Lo buka tepat di hari pemakamannya” kata Aldi seraya memberikan surat untuk nisa.

nisa menerimanya. Lalu membukanya perlahan.


KEEP SMILE MY KHAIRUNISA
TETAP TERSENYUM
MAKASIH BUAT WAKTUNYA KEMARIN
AKU SENENG BANGET
MAAF GAK BISA NEMENIN KAMU LIAT PELANGI UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA
TAPI KAMU GAK PERLU TAKUT,
AKU SELALU ADA NEMENIN KAMU LIAT PELANGI DARI ATAS SANA
MUNGKIN CUMA ITU KENANGAN TERAKHIR DARI AKU, MAAF KALAU KENANGAN ITU MENYAKITKAN UNTUK KAMU.

I LOVE YOU, NISA


nisa mengernyitkan dahinya setelah selesai membaca tulisan tangan sian barusan.

“di, kapan sian kasih suratnya?” tanya nisa langsung.
“Malam Minggu, sebelum besoknya dia ketemu Lo, nis. Kenapa?”
“Oh, gak apa-apa. Thanks ya di” balas nisa.


‘Rio, aku gak peduli kapan kamu nulis surat ini. Yang pasti aku percaya, kamu selalu ada di setiap tarikan dan hembusan nafasku. I LOVE YOU TOO, SIAN’ batin nisa


#THE END#

Tidak ada komentar: