Hujan. Selalu hujan.
Beginilah keadaan kota
Bandung. Sudah 1 bulan terakhir hujan terus menyapa kota ini. Hujan yang
turun begitu deras membuat aktivitas orang-orang menjadi terganggu.
Namun, Tuhan itu maha adil. Ia tak pernah lupa memberikan anugerah
dibaliknya. Tuhan selalu menyajikan keindahan bagi setiap umatnya. Salah
satu keindahan itu adalah “pelangi”.
Pelangi sering
sekali muncul dipenghujung hujan sore hari. Warna-warnanya memberikan
ketenangan bagi sebagian orang yang memang mengaguminya. Begitupun
dengan gadis manis yang tengah duduk bersama sahabatnya di bawah naungan
atap jerami. Pondok kecil yang sengaja dibangun di bawah pohon besar
oleh kedua ayah mereka. Tempat itu mereka jadikan sebagai tempat tinggal
mereka yang kedua. Di pondok itulah mereka sering habiskan waktu luang
bersama.
. Mereka adalah dua orang yang begitu dekat.
Mereka sudah bersahabat sejak duduk di kelas 2 SD. Bahkan sampai
sekarang mereka duduk di kelas 3 SMP, persahabatan itu masih kokoh
terjalin. Dan tahun ini merupakan tahun terakhir mereka bersekolah di
SMP.
Di dalam pondok kecil itu, mereka tengah asik menikmati hujan yang turun begitu tenang sambil sesekali bercanda.
bastian,
atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan sian ini, tengah asik
memandangi sosok gadis di sampingnya. Gadis itu adalah khairunisa, atau
yang lebih dikenal dengan nisa.
“Eh, kenapa sian? Kok ngeliatinnya gitu?” tanya nisa yang sadar sian tengah memperhatikannya.
“Gak kok. Gue suka ngeliatin Lo. Apalagi setiap Lo lagi nengok ke langit. Manis” jawab sian sambil tetap memandangi nisa.
nisa merasakan pipinya panas. Jantungnya berdetak begitu cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari mata sian .
“sian, liat keluar deh. Pelanginya sudah muncul” seru nisa mengalihkan topik pembicaraan.
sian yang merasakan perubahan dari sikap nisa hanya tersenyum. Kemudian ia berdiri, mengikuti arah pandangan nisa.
“Tetep cantik” ucap sian sambil terus menatap pelangi lewat jendela kecil yang sengaja dibangun langsung menghadap ke langit.
“Iya, selamanya akan tetep cantik” balas nisa menanggapi.
“nis, kira-kira besok pelanginya masih muncul gak ya?” tanya sian tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Semoga aja” jawab nisa singkat.
“Gue
berharap masih bisa liat pelangi sama Lo, nis . Gue takut gak bisa liat
keindahannya lagi” ucap sian. Nada suaranya terdengar begitu memilukan.
“Lo
ngomong apa sih? Kita pasti bisa liat pelangi itu besok, dan besoknya
lagi. Gue sama Lo, kita berdua akan sama-sama ngeliatnya. Selamanya”
ucap nisa mantap.
sian menoleh dan tersenyum ke arah nisa.
“Lo
ngaco nis. Kalau besok gak hujan, mana bisa pelangi muncul. Dan
kalaupun besok turun hujan, gak pasti juga kan bakal ada pelangi” balas
sian sambil tertawa.
“Habisnya Lo ngomong kayak gitu. Gue takut dengernya”
“Takut kenapa nis?”
nisa menoleh ke arah sian .
“Gue
takut kalau nanti Gue ngeliat pelangi, Lo gak ada di samping Gue. Gue
gak mau ngeliat pelangi sendirian” kata nisa sambil menatap ke dalam
mata sian
“Gue juga. Tapi, cuma takdir yang bisa nentuin semuanya” balas sian.
“nis, pulang yuk. Ayah Lo ntar nyariin. Gue juga mau pulang nih, takut ayah marah” lanjut sian. nisa hanya mengangguk.
***
Hari
ini adalah hari Minggu. Seperti biasa nisa dan sian berjalan-jalan sore
dengan menggunakan sepeda. Kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan mereka
sejak kecil. Dan karena itulah, mereka menyukai hari Minggu. Hari Minggu
merupakan hari yang sangat mereka tunggu-tunggu.
“sian, kenapa sih setiap Gue ajak Lo lari pagi, Lo gak mau?” tanya nisa ketika mereka sudah sampai di taman komplek perumahan.
“Gue sibuk nis! Maaf ya” jawab sian seadanya.
“Sibuk apa? Kok sibuk terus?” tanya sian sedikit kesal.
“Gue kan mesti ke Gereja, Sayang!” kata sian manja.
“Ih, apaan sih. Pake sayang-sayang segala!” balas nisa seraya memukul pelan tangan sian. sian hanya terkekeh.
“Tapi bukannya Lo ke Gereja jam 10 ya? Gue kan ngajak lari pagi jam 7” tanya nisa lagi.
“Penasaran
banget ya, nis? Kepengen banget nih lari pagi sama Gue? Apa
jangan-jangan Lo.....” sian menatap nisa dengan tatapan menggoda dan
senyum yang sengaja ia buat seakan mengejek.
“Ih, apaan sih! Udah deh. Lupain aja. Lo makin ngaco” balas nisa akhirnya.
“Pipinya
merah tuh, nis!” goda sian lagi. Namun berhasil mendapat bogeman keras
dari nisa. Yang kemudian mendarat tepat di atas kepalanya.
“Awwww!” jerit sian seraya memegangi kepalanya.
“Sakit ahh nis!” tambahnya lagi. sian pun memanyunkan bibirnya.
“ihh,, sian. Manyunnya lucu deh!” goda nisa . Dengan tampang tak berdosa, ia langsung berlari.
Tak
terima dengan perlakuan nisa, sian langsung mengejarnya. Dan akhirnya
terjadi aksi kejar-kejaran antara sian dan nisa selama kurang lebih 3
menit.
“nis.. Hosh, hosh .. Udahan deh” kata sian yang berhenti sambil memegangi perutnya karena kelelahan.
“Wah, sian gak asik. Baru sebentar juga. Gue aja gak cape” ejek nisa.
“.....” sian masih memegangi perutnya yang kesakitan.
“sian,
Lo kenapa? Muka Lo pucet!” tanya nisa khawatir. Sekarang ia sudah
berdiri di samping sian sambil memegangi punggung sian yang tengah
membungkuk.
“Gue capek, nis. Perut Gue sakit” jawab sian pelan.
“Yaudah.
Kita istirahat dulu deh di bangku taman. Sini biar Gue bantu” nisa
membantu sian berjalan menuju bangku taman yang kebetulan letaknya tidak
terlalu jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
“Gimana sian? Masih sakit?”
“Gak juga kok. Gara-gara Lo sih tadi larinya kekencengan!” balas sian pura-pura kesal.
“Huh,
maaf deh. Gue gak tau kalo Lo mudah capek. Soalnya dulu kan Lo paling
suka main kejar-kejaran. Malahan gak perlu waktu lama buat Lo dapetin
Guenya. Tapi kok sekarang Lo berubah ya? Cepet capek gitu. Lo lagi sakit
ya, sian?” nisa mencoba mengeluarkan sebagian unek-uneknya mengenai
perubahan sikap dari sahabatnya selama ini.
sian tak mengira nisa akan menyadari hal itu. Apa sikapnya begitu terlihat berubah di mata nisa?
“Gak
semua orang bisa selalu kuat, nis. Pasti ada waktunya dia jadi lemah
dan gak berdaya. Bahkan yang lebih mengerikan daripada itu mungkin aja
terjadi” kata disn sambil memperhatikan kolam ikan yang berada di
hadapan mereka saat itu.
“Yang lebih mengerikan???” tanya nisa tak
mengerti. sian menatap nisa sebentar kemudian mengangguk. Setelah itu
matanya kembali menatap ke dalam kolam ikan. Seakan ia mendapati sesuatu
yang tak biasa disana.
“Saat orang itu lagi kritis
menjelang kematiannya” jawab sian pelan tapi berhasil membuat nisa
bingung untuk yang kesekian kalinya.
nisa merasa
akhir-akhir ini sian sering berbicara aneh. Meskipun sulit untuk
dicerna dan dipahami olehnya, namun ia merasa inti dari ucapan sian
akhir-akhir ini adalah mengenai kematian. Ada apa dengan sian? Apa
hubungannya sian dengan kematian? nisa tidak berani berpikiran telalu
jauh. Ia tidak mau berpikiran negatif mengenai sahabatnya itu.
“Hmm, sian. Pulang yuk. Udah sore” kata nisa mengalihkan pembicaraan. sian hanya mengangguk.
“Gimana?
Bisa bawa sepeda gak? Atau mau Gue boncengin?” tawar nisa lagi ,
sebelum mereka benar-benar meninggalkan taman komplek.
“Lo
pikir Gue lemah banget apa?? Gue bisa sendiri kok, nisa Sayang! Gak
usah terlalu khawatir gitu dong. Gue kan jadi terharu” jawab sian jail
sambil melayangkan senyum genitnya ke arah nisa.
“sian !! Rese
bener deh! Udah-udah, jangan ngomong lagi. Omongan Lo ngaco mulu” balas
nisa yang mulai salah tingkah karena melihat senyum genit sian yang
menurutnya sangat manis dan berhasil membuat jantungnnya loncat-loncat
saat itu.
“Hehe.. Iya deh iya. Gue gak tega liat pipi Lo merah gitu” goda sian lagi.
“SIAN !!!!!!!!!!!!!” nisa yang sangat malu saat itu, langsung mencubit perut sian.
“Aww,
pedes banget ini nis. Lebih pedes dari sakit Gue yang tadi” celetuk
sian. nisa tidak menanggapinya. Ia malah beranjak pergi dan menaiki
sepedanya.
“Daaadaaaah sian, nisa duluan
yaaaaa!!!!!” seru nisa yang sudah mengayuh sepedanya, meninggalkan sian
yang masih berdiri ditempat sambil bergumam tak jelas.
Menyadari nisa sudah pergi meninggalkannya, sian langsung menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan cepat.
“nisaaaa !!!!!! Tunggu siiiaaaann !!!!!” panggil sian sok manja.
nisa yang sudah berada cukup jauh di depan sian , hanya berbalik dan
menjulurkan lidahnya. Sedangkan sian hanya memanyunkan bibirnya kemudian
tertawa kecil.
Di perjalanan pulang, mereka habiskan
waktu dengan mengobrol dan sesekali bercanda. Beruntung saat itu sian
sudah berhasil menyamakan jaraknya dengan nisa. Meskipun sebenarnya
Inisa yang sengaja mengurangi kecepatannya. Karena ia melihat sian yang
sudah kelelahan dan hampir jatuh karena kakinya tak sanggup mengayuh
sepeda lebih cepat lagi.
***
Pagi
ini seperti biasa sian dan nisa berangkat sekolah bersama. Selain
karena mereka tinggal di komplek yang sama, rumah mereka juga
berdekatan. Nomor rumah sian 12B, sedangkan nisa 14B. Karena itulah
mereka berdua selalu berangkat bersama. nisa selalu menolak apabila
ayahnya ingin mengantarnya, begitupun denMereka selalu memberikan alasan
yang sama kepada orang tua mereka. Dan kedua orang tua mereka pun tidak
melarang. Mereka sangat percaya dengan sian dan ify.
Seperti
halnya tadi pagi sebelum mereka pergi sekolah. Orang tua mereka
menawarkan untuk mengantar mereka. Tapi dengan mantap mereka menolaknya.
@ Meja makan rumah nisa
“nis, mau bareng Ayah? Kebetulan Ayah berangkat pagi” kata Ayah nisa sambil menuangkan susu coklat ke dalam cangkirnya.
“Gak, Yah! nisa sama sian udah jadi pelanggan tetap sama Mang Imang, supir Bus di depan gerbang komplek” tolak nisa halus.
“Oh, Yasudah. Hati-hati ya, nis” kata Ayah akhirnya.
@ Teras depan rumah sian
“Yah,
sian berangkat ya!” pamit sian pada ayahnya yang saat itu sedang
membaca koran sambil menunggu Pak Iyan selesai mencuci mobil di halaman
rumah.
“Loh, gak bareng Ayah sian?” tanya ayah sembari melipat koran yang baru saja selesai ia baca.
“Gak, Yah! sian sama nisa berangkat naik Bus. Mang Imang kan udah jadi pelanggan tetap kita” jawab sian mantap.
“Yasudah kalau begitu. Tapi Kamu sudah sarapan kan tadi?” tanya ayah lagi.
“Sip Yah. Udah kok!” jawab sian
“Terus sudah Kamu bawa gak kotak sama botol....” belum sempat ayah melanjutkan ucapannya, sian memotongnya.
“Sudah, Yah! sian berangkat ya Yah. Udah ditunggu nisa” tanpa menunggu jawaban dari ayah, sian langsung berlari keluar.
---
nisa dan sian berjalan sambil sesekali bernyanyi bersama. Dan “Ya
Sudahlah” merupakan salah satu lagu favorite mereka. Sambil bergandengan
tangan mereka mulai bernyanyi.
(sian)
Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai ya sudahlah
Reff:
Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok
(nisa )
Saat kau berharap keramahan cinta
Tak pernah kau dapat ya sudahlah
Dengar ku bernyanyi lalalalalalalaheyeyeyayaya
Dedum dedudedadedudidam hmm
Semua ini belum berakhir
Reff: (sian-nisa)
Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok
“Hahahahaha” sian dan ify tertawa bersamaan.
“Makin bagus suara Lo, sian!” puji nisa sambil menatap ke arah sian.
“Woyadong, bastian gitu” balas sian bangga.
“Wuuu.. Dasar!” balas nisa tak mau kalah.
“Haha, suara Lo kok makin cempreng ya, nis?” ejek sian. nisa melotot.
“Huh ! Bilang aja mau muji, tapi gengsi. Iya kan? wekk” nisa menjulurkan lidahnya.
“Haha..
Terserah Lo aja deh nis. Tuh Bus nya udah nunggu. Buruan!” sian
langsung menarik tangan nisa. nisa yang ditarik-tarik hanya manyun dan
mengumpat tak jelas.
***
“nis ,
tumben sian ikut gak makan di kantin? Biasanya kan dimana ada Lo pasti
ada sian” tanya fiana sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut
kantin, mencari sosok sian
“Dia lagi ada rapat OSIS. Maklum kan ketos” jawab nisa sambil menyeruput es jeruknya.
“Haha.. Gak kesepian nih nis ditinggal sian?” goda fiana
“Yee.. Gak lah. sian rese gitu masa dikangenin” balas nisa bergidik.
“Biar rese tapi Lo suka kan?” goda Shilla lagi.
“Ahh, fianaaa!!!!” teriak nisa gemas.
“Hehe..
Iya deh, Iya.. By the way, Lo beneran gak ada rasa sedikitpun ya sama
sian? sian kan cakep, keren, pinter, suaranya bagus lagi. Terus kalian
kan udah sahabatan dari kecil. Kelihatannya sian juga suka sama Lo”
berondong fiana
Mendengar pertanyaan dan pernyataan fiana
barusan, nisa terdiam. Ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya kepada
sian. Jujur sebenarnya nisa memang menyukai sian sejak lama. Tapi ia
tidak tahu makna dari rasa sukanya. Apakah itu cinta atau sekedar rasa
kagum.
“Gak tau juga nih, fi. Gue sendiri bingung” jawab
nisa. Matanya terlihat sedang menerawang seakan mencari kepastian untuk
ucapannya tadi.
TEEET.. TEEET.. TEEET
Bel
pertanda waktu istirahat berakhir berbunyi. Semua murid berlarian menuju
kelasnya masing-masing. Dan dalam waktu kurang dari 3 menit, suasana
kantin yang tadinya ramai, sekarang berubah menjadi tempat yang begitu
sepi. nisa dan fiana pun sudah beranjak dari tempat mereka.
***
Kegiatan
sekolah sudah berakhir 10 menit yang lalu. nisa berniat menunggu sian
di halaman depan sekolah. Namun sudah 5 menit nisa menunggu, tapi sian
belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena kesal, akhirnya nisa
beranjak pergi ke kelas sian. Berharap semoga sian ada disana.
“iqbaal!!” panggil nisa setelah melihat iqbaal keluar dari kelasnya yang kebetulan juga merupakan kelas sian.
“Kenapa nis?” sahut iqbaal yang sekarang sudah berada tepat di depan nisa.
“Lo liat sian gak?” tanya nisa to the point.
“sian??
Tadi dia langsung keluar waktu bel bunyi. Gak tau deh kemana. Tapi
setau Gue sih siam itu pasti ke toilet sebelum pulang sekolah. Mending
coba Lo cari disana. Kali aja ada” jawab iqbaal
“Oh, Ok. Thanks ya, bal”
“Yap. Sama-sama”
Tanpa berpikir lagi, nisa langsung berlari menuju toilet laki-laki yang letaknya tak begitu jauh dari kelas nisa
Sesampainya
di depan toilet, nisa bertemu dengan aldi, sahabat dekat sian.
Kebetulan tadi aldi baru keluar dari toilet. Dan entah kenapa, nisa
sekilas mencium bau obat bersamaan ketika aldi keluar tadi.
‘Bau obat? Ah, bodo ahh’ piker nisa.
“di, Lo liat sian gak di dalem?” tanya nisa
“Ada kok di dalem. Tapi Lo gak usah masuk, tunggu disini aja” jawab aldi
“Loh ?? Emang kenapa?” tanya nisa lagi.
“Yeee.. Lo mau masuk toilet cowok?”
‘Oh, iya ya. Bego Gue’ batin nisa merutuki dirinya sendiri.
“Hehe.. Iya Gue lupa. Yaudah deh. Emang Rio ngapain sih di dalem?” tanya nisa yang masih penasaran.
“Lo tanya aja sama siannya sendiri” jawab aldi santai.
“Gue duluan ya,nis. Bye!” lanjutnya, kemudian berlalu meninggalkan nisa yang sudah manyun ditempat.
“Huh, dasar. Temen-temen sian pada sok cool semua” umpat nisa kesal.
Tak
lama setelah aldi pergi, sian keluar dari tempat persembunyiannya (?).
Melihat nisa yang sedang bergumam tak jelas, sian langsung mendekatinya
dan menyapanya.
“Woy. Ngapain disini?” kaget sian.
“Ah, sian Rese!! Upsss” latah nisa. Sontak ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Ciee,
latah aja sempet nyebut nama Gue. Gue tau kok nis kalo Gue itu
ngangenin! Tapi jangan segitunya juga dong. Gue kan malu!” ucap sian
narsis. Nisa yang mendengarnya hanya bergidik.
“Ihhhh.. Najong banget deh,sian !” balas nisa
“Huh!! Eh ngapain Lo disini?” sian mengulangi pertanyaannya.
“Menurut
Lo Gue mau ngapain? Bukannya Lo yang tadi pagi ngajak pulang bareng?
Gue sampe jamuran tau nunggunya. Gue nunggu Lo di halaman depan, tapi Lo
nya gak muncul-muncul. Terus Gue tanya iqbaal katanya Lo di toilet.
Terus barusan Gue ketemu aldi, si cowok yang sok cool. Kayak orang bego
Gue nunggu Lo!” celoteh nisa panjang kali lebar (?).
sian
hanya menahan tawa mendengar celotehan nisa Sebenarnya hal yang sangat
disukai sian adalah ketika melihat nisa berperilaku seperti tadi. Saat
nisa berceloteh, saat nisa marah-marah, saat nisa cerewet, dan saat nisa
manyun. Di mata Rio, melihat semua itu merupakan kesenangan tersendiri
untuknya. Dan hal itu juga yang membuat sian tidak ingin mengakhiri
hari-harinya tanpa nisa
“Lo dengerin Gue gak sih?” seru nisa yang melihat sian senyum-senyum sendiri.
sian tersadar dari lamunannya.
“Eh,
iya iya. Gue denger. Yaudah,nis. Pulang yuk!” ajak sian. nisa hanya
menatap sian bingung. Namun, akhirnya ia menurut dan mengekor sian di
belakang.
***
“Kak sian! Bantu Acha ngerjain PR dong” panggil Acha, adik sian
“Kakak!” panggil Acha lagi sambil mengetuk pintu kamar sian dari luar. Namun, tak ada jawaban dari sian.
“Kak sian!” panggil Acha untuk yang kesekian kalinya.
Perasaan
Acha mulai tidak enak. Ia mengetuk pintu kamar kakaknya itu lebih keras
lagi. Namun, tetap tidak mendapat jawaban dari si empunya kamar. Dengan
segenap keberaniannya, Acha menggerakkan tangannya ke gagang pintu dan
membukanya.
“Gak dikunci” gumam Acha pelan.
Setelah
berhasil masuk, Acha mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kamar
untuk mencari sosok sian. Perasaan Acha semakin tidak enak. Berkali-kali
ia memanggil nama kakaknya itu.
Setelah berjalan dan sampai di
samping tempat tidur, Acha terkejut. Matanya membelalak, jantungnya
berdegup sangat kencang, air matanya seakan ingin sekali menetes. Acha
tak kuasa melihat apa yang sekarang ada di hadapannya.
sian
tersungkur tak berdaya di samping bawah tempat tidur. Darah yang masih
segar mengalir dari hidungnya. Kaki Acha lemas seketika. Tak mampu
menahan beban tubuhya, akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk
di lantai. Dengan lirih ia memanggil nama kakaknya itu.
“Kak.... Kak sian, bangun Kak!” panggil Acha seraya menggerakkan tangan sian yang dingin.
Tak ada jawaban dari sian.
“AYAH!!!!!” teriakan Acha pecah. Suaranya terdengar bergetar.
***
Matahari
pagi kembali menampakkan kehadiran dan sinarnya. Cahayanya menerobos
masuk ke dalam ruangan bercat putih. Dua orang, satu pria dan satu
wanita yang saat itu mengenakan pakaian serba putih semakin membuat
kontras. Suasana pagi di wilayah itu sudah cukup ramai. Beberapa wanita
yang juga berpakaian serba putih berjalan sambil mendorong sesuatu. Bau
rumah sakit semakin tercium nyata.
“Arggghhh!” erang seseorang yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.
“Dok, pasien sadar!” seru wanita yang ternyata seorang suster kepada atasannya.
Dokter pun menghampiri dan memeriksa keadaan pasien yang baru sadar itu.
“sian ? Sudah merasa baikan?” tanya Dokter itu ramah.
“Dokter Bayu... Hm, iya Dok. Saya nginep disini lagi ya Dok?” jawab dan Tanya sian.
“Iya, kamu sudah hampir 1 bulan tidak sadarkan diri” ujar Dokter yang ternyata bernama Dokter Bayu itu.
“Oh ya? Ayah, Mama, Acha dimana Dok?” tanya sian lagi.
“Mereka baru saja pulang”
“oh” balas sian singkat.
“Yasudah. Dokter tinggal dulu ya,sian ! Masih ada kerjaan” ujar Dokter Bayu.
“Baik, Dok. Terima kasih” balas sian sambil tersenyum.
Tak lama setelah Dokter berlalu, aldi datang.
“Hai,sian ! Gimana keadaan Lo?” tanya aldi langsung.
“Baik kok. Lo gak sekolah?”
“Yee..
Dasar pikun Lo. Kelamaan tidur sih, jadi lupa hari. Ini kan hari Minggu
dodol!” jawab aldi yang sekarang sudah duduk di kursi samping tempat
tidur sian.
“Hahaha.. Lupa Gue, Bro! Oh ya, Lo gak bilang nisa atau yang lain kan?” Tanya sian.
“Gak kok” jawab aldisingkat.
“Bagus deh!”
“sian, sampai kapan sih Lo mau bohongin mereka? Terutama nisa. Lo gak tega?”
“Habis mau gimana lagi di? Gue gak mau mereka khawatir. Dan nisa, Gue gak mau dia sedih” jawab sian
“Tapi,sian. Cepet atau lambat nisa harus tau” ujar aldi lagi.
“Iya
Gue tau kok. Gue pasti kasih taunisa . Tapi gak sekarang” balas sian.
Matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit.
aldi hanya diam mendengar ucapan sian. Ia bingung harus berkata apa lagi untuk meyakinkan sahabat baiknya itu.
“Penyakit ini sudah makin parah, di. Gue takut bakal ninggalin semua orang-orang yang Gue sayang” ucap sian pelan.
“Lo gak akan ninggalin kita sian. Lo harus semangat. Lo pasti sembuh” aldiberusaha menyemangati sian.
“Gak
akan ada harapan lagi di . Gue juga udah cape banget sama penyakit ini.
Jantung Gue udah digerogotin, sampai buat berdetak sekali aja susah”
kata sian lirih.
“Yang sabar ya sian ! Tuhan pasti kasih anugerah
dibalik semuanya” aldi menepuk pundak sahabatnya. Mencoba memberikan
kekuatan untuknya.
“Semoga aja,di”
bastian
bintang simbolon adalah sosok laki-laki yang berusaha memberikan
ketenangan untuk semua orang yang disayanginya, walau sebenarnya ia
sangat rapuh. Di balik senyumnya ia menangis, di balik tawanya ia
merintih, dan di balik ketegarannya ia hanyalah orang yang lemah, tak
mampu berbuat apa-apa selain menyembunyikan ketidaksempurnaannya.
Sejak
kecil sian mengidap penyakit yang sangat menyedihkan. Penyakit yang
menyerang organ jantungnya. Jantung sian sangat lemah dan kronis. Sudah
13 tahun penyakit itu bersarang di tubuhnya. Dan selama 13 tahun itu
pula sian berperang melawan rasa sakit yang membuatnya tidak tahan untuk
hidup lebih lama lagi.
Sudah berkali-kali sian menyerah dengan
hidupnya. Namun, sian sadar ia masih belum mampu meninggalkan
orang-orang yang begitu menyanyanginya.
Ayah, Mama, Acha,
aldi dan nisa. Mereka adalah orang-orang yang membuat sian berusaha
untuk tetap hidup. Mereka adalah orang-orang yang sangat berarti
untuknya. Dan karena mereka pula, sian masih bersemangat selama ini.
Dokter
sudah mengatakan bahwa kesempatan sian untuk hidup sangatlah tipis.
Sian tidak terkejut mendengar hal itu. Namun bagaimana dengan semua
orang yang disayanginya? Ia tidak tega melihat mereka sedih.
Keluarga
sian dan aldi sangat terpukul ketika mengetahui samuanya. Tapi semakin
lama mereka juga semakin bisa menerima takdir yang digariskan Tuhan
untuk sian. Mereka sadar, tangis dan kesedihan mereka hanya membuat sian
semakin lemah dan terpukul. Saat ini yang dibutukhkan sian adalah
dukungan dan semangat dari mereka.
“sian , Gue pulang dulu ya. Cepet sembuh” ujar aldi akhirnya, setelah tadi ia menemani sian selama kurang lebih 30 menits.
“Ya,
thanks ya di” aldi hanya mengangguk. Sejurus kemudian ia pergi
meninggalkan sian yang masih terbaring lemas di tempat tidur.
***
Sore
ini, Acha mengajak nisa untuk bertemu di taman komplek. Mereka sudah
duduk di bangku panjang. Tempat dimana sian dan nisa sering menghabiskan
waktu berdua setiap hari Minggu sore.
“Kenapa Cha kamu nyuruh Kakak kesini?” tanya nisa memulai pembicaraan.
“Hmm.. Ada yang mau Acha omongin Kak” jawab Acha.
Suasana
sore itu terasa sangat dingin. Tapi nisa tidak merasakannya. Ia merasa
sebaliknya, suasana begitu panas. Di tambah lagi ia merasakan ada hal
yang tidak beres hari ini.
“Ngomong apa?” tanya nisa penasaran.
“Masalah Kaksian , Kak” suara Acha terdengar gugup.
“sian ? Dia kenapa? Dia sudah balik ya dari Jakarta?” berondong nisa
Ya,
Acha memang sempat berbohong dengan nisa masalah sian. Ia mengatakan
bahwa sian sedang menjenguk neneknya di Jakarta. Padahal saat itu sian
sedang tak sadarkan diri di rumah sakit.
Acha sudah pernah
berjanji dengan kakaknya itu, bahwa nisa tidak boleh tau tentang
penyakitnya. Dengan terpaksa Acha harus berbohong. Namun, Acha sudah
lelah menutupi semuanya. Nisa harus tahu yang sebenarnya. Karena itu, ia
mengajak nisa bertemu di taman komplek.
“Kak sian gak pergi ke Jakarta. Maaf Acha udah bohongin Kak nisa ” kata Acha. Matanya sudah berair, namun belum sampai menetes.
“Maksud Kamu?” nisa mulai tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Acha.
“Kak
sian di rumah sakit. Kak sian kritis selama 5 hari. Dan 4 hari yang
lalu Kak sian baru sadar. Kak sian minta supaya Kak nisa jangan dikasih
tau masalah penyakit Kak sian . Kak sian gak mau Kak nisa sedih” cerita
Acha panjang lebar. Suara Acha terdengar lirih saat itu.
“Kata Dokter, penyakit Kak sian sudah gak bisa disembuhin” lanjut Acha. Air mata sudah membanjiri pipi mulusnya.
nisa
yang mendengarkan cerita Acha, hanya bisa diam terpaku. Ia tak habis
pikir dengan kenyataan yang menyakitkan itu. Semua keganjalan hatinya
terjawab sudah. Sian yang berubah selama ini ternyata karena penyakit
yang dideritanya. Dan ucapan sian yang sangat aneh akhir-akhir ini,
menandakan bahwa ia benar-benar akan menghadapi kenyataan itu. Kenyataan
mengenai kematian.
nisa sangat terkejut. Kakinya lemas,
hatinya sangat perih mendengar semua itu. Dadanya sesak. Tanpa ia
sadari, air matanya sudah mengalir.
“sian .. Orang ngeselin itu punya penyakit? Orang yang sok itu bisa sakit?” nisa bergumam lirih.
Seakan
memahami kepedihan hati nisa, Acha langsung memeluk nisa. Nisa hanya
diam tanpa membalas pelukan Acha. Tangannya seperti kaku untuk di
gerakkan.
“Kak nisa , maafin Acha baru bilang semuanya sekarang” ujar Acha pelan masih dengan isakan tangis.
“Gak
Cha. Bukan salah kamu kok. Ini semuanya salah abang kamu yang sok kuat
itu. Kakak kamu ngeselin banget , Cha. Dia gak mau cerita sama kakak.
Padahal kan kita temenan udah lama. Dia anggap kakak ini apa? Patung?”
celoteh nisa kesal. Suaranya terdengar sangat bergetar.
Acha melepaskan pelukannya dan menatap mata nisa.
“kak nisa ....” belum sempat Acha melanjutkan ucapannya, nisa langsung memotongnya.
“Tolong bilang sama kakak Kamu. Kak nisa tunggu dia hari Minggu pagi di pondok” ucap nisa , ait matanya masih mengalir.
“Tapi kak....”
“Cha, Kakak pergi dulu. Salam buat Kak sian”
Tanpa
menunggu jawaban Acha, nisa langsung pergi. Hatinya sakit sekali. Ia
lemah sekarang. Tanpa sian ia seperti raga tak bernyawa. Sian sudah
menghancurkan semua harapannya. Harapan yang tidak akan bisa untuk
diraih lagi.
***
Hari ini
tepat hari Minggu. Nisa sudah berada di pondok kecil, tempat dimana ia
sering menghabiskan waktu dengan sian. Setelah 30 menit menunggu dengan
sabar, akhirnya orang yang diharapkannya pun datang.
sian datang
dengan menaiki sepeda. Hari ini sian tidak terlihat seperti orang sakit.
Ia sangat sehat. Apa yang dikatakan Acha tidak benar. Sian sakit? Tapi
keadaannya sekarang tidak begitu. Sian tidak terlihat sakit atau
semacamnya. Nisa berharap semoga yang dikatakan Acha minggu lalu sama
sekali tidak benar.
“Hai nis ? Udah lama?” Tanya sian .
“Lumayan lama” jawab nisa singkat.
“Kok jutek gitu?” tanya sian lagi.
“Menurut Lo?” nisa balik bertanya.
“Hmm.. Masalah penyakit? Gak usah di bahas sekarang deh. Mending kita main” ajak sian.
nisa yang mendengar ajakan sian tadi, langsung melotot.
“Main?” tanya nisa bingung. Sian mengangguk.
“Tapi kan Lo....” ucapan nisa terpotong.
“Kan udah di bilang, masalah penyakit ntar aja di omonginnya” ujar sian gemas.
“Terus kita mau main apa?” tanya nisa lagi.
“Kita keliling pakai sepeda aja. Gue yang boncengin Lo deh”
Akhirnya
nisa dan sian berjalan menggunakan sepeda. Mereka berkeliling komplek.
Sian benar-benar tidak terlihat seperti orang sakit. Bahkan sian selalu
mengajak nisa bercanda selama di perjalanan. Nisa pun tak bisa menahan
tawanya. Mereka sangat menikmati pagi itu.
Selesai
besepeda, sian mengajak nisa ke danau yang letaknya dekat dengan taman
komplek. Nisa pun menurut. Sesampainya di danau, sian dan nisa menyewa
perahu. Mereka berdua mendayung perahu itu bersama. Sambil mendayung,
mereka mengobrol dan bercanda satu sama lain. Suasana siang itu pun
terasa sangat menyenangkan.
Setelah 1 jam berada di
perahu, sian langsung mengajak nisa ke bukit. Di bukit itu mereka
kembali asik dengan canda dan tawa. Mereka berlarian kesana kemari,
bermain kejar-kejaran, dan bernyanyi bersama. Nisa sampai lupa beberapa
minggu yang lalu saat sian kesakitan ketika bermain kejar-kejaran
dengannya. Tapi hari ini sian tidak kesakitan seperti waktu itu. Dan
nisa semakin yakin, semua yang dikatakan Acha salah besar. Sian
baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Nisa sangat bersyukur karena semua
itu.
“sian, harinya ujan nih. Neduh dulu yuk disana!” nisa menunjuk bangku panjang yang beratapkan seperti jamur.
Setelah mereka duduk, sian langsung melepaskan jaketnya dan memberikannya ke nisa.
“Loh? Buat apa sian ?” tanya nisa bingung.
“Pake! Harinya dingin” jawab sian singkat.
nisa hanya mengangguk dan segera mengenakan jaket sian .
Suasana hening. Hanya terdengar bunyi hujan yang menapaki tanah.
“nis, jam berapa sekarang?”Tanya sian kepada nisa.
“Jam 5 sian” jawab nisa setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Uhuk.. Uhuk !!” suara batuk sian yang terdengar serak memecah keheningan sore itu.
“Kenapa sian ?”
“Gak kok. Cuma batuk” jawab sian sambil tersenyum.
nisa merasa bibir sian sekarang pucat tidak seperti tadi.
“Hmmm.. nis ?” panggil sian
“Ya? Kenapa ?” sahut nisa.
“Masalah penyakit, Kamu masih mau denger?” tanya sian.
‘Sejak kapan sian ngomong pake “Kamu”?” pikir nisa bingung.
“Penyakit? Lo gak lagi sakit kan?” nisa balik bertanya. Perasaannya mulai takut.
“Wah, ternyata obat dari Dokter Bayu bener-bener manjur. Hebat ya!” sian malah bercerita tak jelas sambil tersenyum.
“Obat? Dari Dokter Bayu? Maksud Lo apa sian ?” nisa mulai bingung.
“Ya,
Dokter Bayu kasih Aku obat supaya Aku bisa kuat hari ini. Meskipun Cuma
untuk hari ini. Soalnya dosis obat itu gede banget! Karna Aku mau
ketemu Kamu, jadinya Aku paksa-paksa tuh Dokter supaya mau kasih
obatnya. Padahal mama, ayah, sudah ngelarang keras. Tapi Cuma ini
satu-satunya cara buat bisa ketemu dan main sama Kamu” terang sian
sambil sesekali tertawa kecil. Meskipun tawanya tidak terdengar seperti
biasa.
nisa yang mendengarkan penjelasan sian langsung
mengusap matanya yang sudah mulai berair. Ternyata apa yang nisa
pikirkan salah. Sian benar-benar sedang sakit. Nisa takut kalau hari ini
merupakan hari terakhirnya bertemu dengan sian. Nisa tidak akan
sanggup.
“nis, kok diem?” panggil sian sambil mengangkat dagu nisa yang tertunduk.
“Kamu nangis nis?” tanya sian lagi.
“Lepasin,sian !” nisa berkata lirih sambil menepis tangan sian.
“Lo
tuh tega,sian. Gue sudah seneng banget hari ini. Gue pikir Lo itu
sembuh. Bahkan Gue pikir Lo sama sekali gak sakit” ucapan nisa terputus.
Ia menarik nafas sejenak untuk melanjutkan ucapannya.
“Tapi
ternyata salah. Salah besar. Gue kecewa sama Lo. Kenapa Lo gak bilang
dari tadi? Kalo Gue tau, Gue gak akan mau diajak jalan sama Lo!” lanjut
nisa sambil menatap ke arah sian yang sedang menyenderkan tangannya ke
atas paha sembari menatap ke tanah.
“Justru itu. Kalo Aku
bilang, Kamu pasti nolak. Dan Aku gak mau usahaku sia-sia setelah minum
obat dari Dokter Bayu” timpal sian.
“Tapi,sian...” nisa tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.
“nisa
, pasti Acha udah ceritakan tentang penyakit itu. Maaf nis, kamu
harus denger dari orang lain. Karena aku emang gak sanggup buat kasih
tau semuanya” tatapan sian masih belum beranjak dari tanah di
hadapannya.
nisa hanya diam menunggu ucapan sian
selanjutnya. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia takut akan
menangis kalau ia berbicara lebih banyak lagi.
“Penyakit
yang menyerang jantung itu ternyata menyiksa banget,nis.. dan beruntung
Tuhan masih bersedia kasih Aku kekuatan selama 13 tahun. Dan sampai
sekarang aku bisa duduk sama kamu juga karna kekuatan yang Dia kasih.
Meskipun mungkin kekuatan itu Cuma sampai hari ini”
‘sian , Please. Jangan bilang kayak gitu. Gue takut, sian . Takut!’ jerit nisa dalam hati.
“Dokter
bilang jantung Aku kronis. Penyakitnya pun gak jelas apa namanya.
Padahal sudah hampir berpuluh-puluh kali Dokter kasih tau nama
penyakitnya ke aku. Tapi satu detikpun aku gak bisa inget namanya. Ribet
buat nyebutinnya. Cardiovas apalah itu. Kalau kamu mau tau, mending
tanya aja sama Dokter Bayu” sian terkekeh.
nisa
tidak menanggapi candaan sian. Ia masih sibuk mengatur nafasnya yang
begitu sesak setiap mendengar ucapan sian yang semakin lama semakin
serak terdengar di telinganya.
“Maaf ya nis, aku selalu
bohong sama Kamu. Aku selalu nolak setiap kamu ajak lari pagi hari
Minggu. Dan alasanku pasti bilang mau ke Gereja. Semuanya gak bener.
Setiap Minggu pagi aku ada jadwal buat Therapy di rumah sakit” sian
berkata apa adanya.
nisa yang kaget dan marah mendengar pengakuan sian itu, hanya mampu diam. Tak mampu memarahi sosok sian saat ini.
“nisa , kamu orang yang bikin aku tetap bertahan sama penyakit ini setelah ada ayah, mama, Acha, dan aldi”
nisa menoleh menatap sian. Tapi sian yang ditatapnya masih tidak beranjak, ia tetap menatap ke bawah.
‘Ada
apa sih di bawah sana,sian ? Apa kamu lagi liat malaikat? Apa malaikat
lebih mau kamu liat, ketimbang aku yang bakal kamu tinggalin sekarang?’
batin nisa sesak.
“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk” batuk sian
terdengar lebih keras dan serak dari yang tadi. Bahkan suaranya
menandingi suara hujan yang turun saat itu.
“sian...” panggil nisa lirih.
nisa berniat memberikan sapu tangannya kesian , tapi sian menolaknya.
“Gak,nis. Sapu tangan kamu nanti kotor” balas sian.
Suara batuk sian terdengar lagi. Bahkan semakin keras. Nisa ingin membantunya, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk sian
sian menutupi mulutnya dengan tangan. Setelah merasa baikan. Sian menjauhkan tangannya, dan meliriknya sekilas.
‘Darah? Sial, jangan sekarang Tuhan, aku mohon’ batin sian menjerit.
nisa yang melihat tangan sian penuh darah langsung mendekatinya.
“sian! Darah!” seru nisa panik.
Dengan
cepat njsa merogoh kantong celanya untuk mengambil sapu tangan. Tanpa
rasa jijik sedikitpun, nisa membersihkan tangan sian yang penuh oleh
darah.
“nisa, , sapu tangan kamu kotor!” kata sian yang kaget nisa memegang tangannya dan membersihkan darahnya.
“Gak apa-apa sian ” jawab nisa singkat.
Setelah darah di tangan sian benar-benar bersih, dan sian juga sudah tidak batuk-batuk lagi, nisa langsung memeluk sian.
“sian..Aku mohon jangan pernah lakuin hal kayak gini lagi..” suara nisa terdengar serak. Air matanya mengalir mulus di pipinya.
“Kamu
anggap aku ini apa sian ? Kenapa kamu baru kasih tau semuanya sekarang?
Kenapa kamu gak kasih aku kesempatan buat kasih yang terbaik untuk
kamu?” pelukan sian makin erat. Sian tidak kuasa membalasnya. Ia biarkan
perempuan cantik ini mengeluarkan segala unek-unek hatinya.
“Aku
juga mau ngerasain sakit yang kamu rasain. Tapi kamu gak pernah mau
bagi rasa sakitnya ke aku. Kita ini sahabat sian ! Harus saling berbagi
kan?” tanya nisa lirih. Air matanya masih terus mengalir.
sian melepaskan pelukan nisa perlahan, kemudian menatap lurus ke dalam mata bening nisa yang basah.
“Kamu
sudah kasih aku yang terbaik nis. Kehadiran kamu di samping aku itu
udah lebih dari cukup. Thanks ya nis” kata sian. nada suaranya mulai
lemah.
nisa tak kuasa menatap mata sian yang seakan sedang menahan matanya agar tidak tertutup rapat.
“Errrrggggghhh..!” sian mengerang keras sambil memegangi dadanya.
“sian!!! Kenapa? Yang mana yang sakits sian?” tanya nisa panik.
“Disini nis ... Sakit banget!” erang sian lemas.
nisa langsung memegang dada sian tepat di atas tangan sian . nisa merasakan tangan sian begitu dingin. Dingin sekali.
“Gimana sian? Udah lebih baik?” tanya nisa khawatir.
sian
bukannya menjawab, malah menggerakkan tangannya yang lain ke tangan
nisa yang tepat berada di atas tangannya yang tadi berada di dadanya.
“Malah
lebih parah nis . Jantung aku makin ngejerit-jerit. Kamu bisa ngerasain
kan detakannya yang cepet banget?” tanya sian sambil menatap mata nisa.
nisa hanya mengangguk.
Benar kata sian, jantungnya malah berdetak cepat sekali.
“Kamu tau apa maksudnya?” tanya sian lagi, suaranya semakin lemah. Nisa menggeleng.
“Aku cinta kamu nis” ucapan sian yang pelan seakan menusuk hati nisa sampai ke dalam.
‘Kenapa
kamu baru bilang itu sekarang? Kenapa? Apa ini kenangan terakhir dari
Kamu, sian ? Aku gak sanggup. Bener-bener gak sanggup’ batin nisa sedih.
nisa
tidak sanggup menatap mata sian lagi. nisa tak kuasa membiarkan
tangannya terus berada di dada sian yang sekarang berdetak semakin
lemah.
“sian, kamu cape?” tanya nisa mengalihkan perhatian.
“Banget nis” Suara sian hampir tak terdengar.
“Kita pulang yuk! Mumpung hujan sudah reda” ajak nisa.
“Gak
nis, aku mau disini. Kita lihat pelangi dulu. Bukannya kamu bilang gak
mau liat pelangi tanpa aku? Sebelum semua itu bener-bener terjadi, aku
mau liat pelangi sama kamu. Aku yakin pelangi yang muncul hari ini akan
jadi pelangi paling indah dalam hidupku juga hidup kamu” siamberkata
seperti sedang berbisik. Tatapannya lemah tak berdaya.
nisa merasakan ucapan sian adalah ucapan perpisahan. nisa juga merasakan hawa tak enak mulai menderanya.
‘Apa
bener orang di sampingku ini sian? Bener-bener berbeda dari sian yang
dulu bahkan jauh berbeda dari sian yang tadi pagi. Tuhan, jangan
sekarang aku mohon’ batin nisa.
“sian, kalau kamu cape, kamu boleh sanderan di bahu aku” kata nisa sambil memandang sian sedih.
sian tidak menjawab. Mungkin karena suaranya sudah benar-benar habis. Sian langsung bersandar di bahu kanan nisa.
“nis?” panggil sian pelan.
“Kenapa sian?”
“Kamu gak mau.... bilang....apapun ke aku?” suara sian terputus-putus.
“Kamu mau aku bilang apa? Aku pasti bilang sekarang juga”
“Boleh
aku minta kamu bilang I LOVE YOU buat aku?” pinta sian lagi. Ucapannya
terdengar lancar, tidak seperti tadi. Meskipun masih dengan suaranya
yang lirih dan pelan.
nisa mengangguk.
“BASTIAN
BINTAN SIMBOLON , AKU CINTA KAMU. I LOVE YOU, SIAN” nisa berkata tulus
dari dalam hatinya. Dan ia berharap semoga sian bisa memahami ketulusan
dari ucapannya.
“Makasih khairunisa. Ucapan itu... ucapan terindah ...dalam hidupku” sian tersenyum getir di bahu nisa.
“Mau denger aku nyanyi sian?” tawar nisa kepada sian yang sedang memejamkan matanya.
“Mau nis!” balas sian masih dengan mata terpejam.
‘Mungkin Cuma ini yang bisa aku persembahin buat kamu bastian ku. Semoga kamu suka. Lagu favorite kita’ kata nisa dalam hati.
Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai ya sudahlah
Apapun yang terjadi
Ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be ok
Suara
Ify melemah. Tangan sian jatuh tak berdaya di bangku. Ia menatap sian
yang sedang tidur di bahunya, bibir sian pucat, badannya terasa begitu
ringan dan lemas. nisa menangis pelan. Seakan tidak mau sian terganggu
dan terbangun karenanya.
“sian.. bastian .. Pelanginya sudah muncul. Pelangi yang kamu tunggu sudah ada di langit” ucap nisa sambil tetap menangis.
“sian!
katanya kamu mau liat pelangi sama aku? Itu sudah muncul,sian!” ucap
nisa lagi. Meskipun ia tahu semua itu tidak ada gunanya, tapi nisa tetap
berharap sian bangun dan menatap pelangi itu bersama-sama.
“Aku Cinta Kamu, bastian” kata nisa lirih sambil mengenggam tangan sian yang sudah mulai kaku dan dingin.
***
Pemakaman
sian berjalan lancar dan khidmat. Semua yang berada disana terlihat
begitu sedih dan terpukul. Mama sian belum berhenti menangis di pelukan
ayah sian.
nisa yang juga merasa terpukul hanya mampu menyandarkan kepalanya di bahu fiana sambil menangis.
“nisa, yang tabah ya” ujar fiana seraya mengusap lembut punggung nisa.
“nis,
ini pemberian dari sian buat Lo. Dan sian mau Lo buka tepat di hari
pemakamannya” kata Aldi seraya memberikan surat untuk nisa.
nisa menerimanya. Lalu membukanya perlahan.
KEEP SMILE MY KHAIRUNISA
TETAP TERSENYUM
MAKASIH BUAT WAKTUNYA KEMARIN
AKU SENENG BANGET
MAAF GAK BISA NEMENIN KAMU LIAT PELANGI UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA
TAPI KAMU GAK PERLU TAKUT,
AKU SELALU ADA NEMENIN KAMU LIAT PELANGI DARI ATAS SANA
MUNGKIN CUMA ITU KENANGAN TERAKHIR DARI AKU, MAAF KALAU KENANGAN ITU MENYAKITKAN UNTUK KAMU.
I LOVE YOU, NISA
nisa mengernyitkan dahinya setelah selesai membaca tulisan tangan sian barusan.
“di, kapan sian kasih suratnya?” tanya nisa langsung.
“Malam Minggu, sebelum besoknya dia ketemu Lo, nis. Kenapa?”
“Oh, gak apa-apa. Thanks ya di” balas nisa.
‘Rio,
aku gak peduli kapan kamu nulis surat ini. Yang pasti aku percaya, kamu
selalu ada di setiap tarikan dan hembusan nafasku. I LOVE YOU TOO,
SIAN’ batin nisa
#THE END#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar