Sabtu, 09 Juni 2012

Kisah seorang istri sholehah


“FATIMAH anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi Muhammad SAW. “Tentu saja, wahai ayahku”
“Tidak jauh dari rumah ini tinggal seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu”.

Apakah gerangan yang dilakukan Siti Muthi’ah sehingga Rasulpun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.
Begitu gembira Muthi’ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi besar itu. “Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini.”
“Ini Hasan putraku sendiri, ia kan masih anak-anak.” kata Fatimah sambil tersenyum.
“Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah.”
Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi’ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarkan Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi’ah.
Berapa banyak istri yg melakukan hal seperti itu apabila suami tidak ada di rumah.Saya kagum alangkah bahagia seorang suami memiliki istri yang begitu menjaga amanah dari suaminya.
Ya Allah semoga jodoh hambaMU ini nantinya akhlaknya seperti Siti Muthi’ah.Amin

Cinta dan Suka

Di hadapan orang yang kita cintai, hati kita akan berdegup kencang.
Tapi di depan orang yang kita sukai, hati kita akan gembira.
Di depan orang yang kita cintai, musim sentiasa berbunga-bunga.
Di depan orang yang kita sukai, musim itu cuma berangin saja.
Jikalau kita lihat sorot mata orang yang kita cintai, kita akan kaku.
Jikalau kita melihat mata orang yang kita sukai, kita akan tersenyum.

Di depan orang yang kita cintai, lidah susah untuk berkata-kata.
Di depan orang yang kita sukai, lidah bebas berkata apa saja.
Di depan orang yang kita cintai, kita menjadi malu.
Di depan orang yang kita sukai, kita akan tunjukkan imej yang sebenarnya.
Bila orang yang kita cintai menangis, kita akan turut menangis.
Bila orang yang kita sukai menangis, kita akan membuat dia gembira.
Perasaan cinta bermula dari kata.
Perasaan suka bermula dari telinga.
Jadi, jikalau kita berhenti menyukai seseorang yang kita suka. Umpama kita membuang telinga kita. Tapi jika kita coba menutup mata. Cinta berbuah menjadi airmata. Setiap orang akan mengalami ini dalam hidup mereka

Ada yang memperhatikan

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita
muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dengan
tangannya yang lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan
membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku
yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya
kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu
tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu
kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya
untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala
harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yang penuh
dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di
sekolah, rumah maupun di linkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya.
Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti
jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita-citakan.
Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup menolongnya
selalu membisiki hatinya. “Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia
menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak
peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun
dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu,
penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustrasi, depresi dan
putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu
penyayang dan setia, Burhan.
Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yang bekerja sebagai security
di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dengan seluruh hatinya.
Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak
berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya
Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong
mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum
menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang.
Butuh extra waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia
berhenti dengan terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf
Braile. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi
bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja
selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan
sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia
memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi
kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan
sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya
ketika sendirian? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Yasmin yang
putus asa.
Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yang sedang frustasi dengan sabar.
Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana
Yasmin musti belajar huruf Braile. Dengan sabar Burhan menuntun Yasmin
menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan susah payah dan
tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan
berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat
dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan
mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dengan seragam dinas security.
Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus
diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa
mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga
punya pekerjaan yang harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia
mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa
dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah
yang dialaminya.
Seperti yang diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia
merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. “Saya buta, tak
bisa melihat!” teriak Yasmin. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di
mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.” Burhan hancur hatinya
mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau tak mau
Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri.
Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar
Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa
berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Burhan
menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia
berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri,
dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas.
Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami
yang begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi
Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi.
Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan
juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yang
dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang
tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yang dulu, yang
tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.
Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani
rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian. Suatu
hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “Saya
sungguh iri padamu”. Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara
padanya. “Anda bicara pada saya?”
” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”. Yasmin
kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia
ini, seorang buta, wanita buta, yang berjalan terseok-seok dengan
tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya,
membuat orang lain merasa iri?
“Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
“Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini,
seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di seberang
jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu
menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan
langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan
itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya
padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita
beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat
orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia
merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah
memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. Sebuah
pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang membawa
cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW

Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik

wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Sumber : http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2009/04/detik-detik-sakaratul-maut-rasulullah.html

Kisah Nyata: AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN

Saif Al-battar
Senin, 21 November 2011 16:58:12

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…
(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

1 wanita dapat menarik 4 pria masuk ke dalam neraka

Wasiat Rasulullah SAW kepada Saidina Ali r.a

Wahai Ali,
Bagi orang mukmin ada 3 tanda-tandanya:

Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia
Tidak terpesona dengan bujuk rayu wanita
Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia
Wahai Ali,
Bagi orang alim itu ada 3 tanda-tandanya:

Jujur dalam berkata-kata
Menjauhi segala yang haram
Merendahkan diri
Wahai Ali,
Bagi orang yang takwa itu ada 3 tanda-tandanya:

Takut berlaku dusta dan keji
Menjauhi kejahatan
Memohon yang halal karena takut jatuh dalam keharaman
Seorang wanita, pada hari akhirat akan menarik empat golongan lelaki bersamanya ke dalam neraka.

Pertama: Ayahnya

Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia.
Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar sholat, mengaji & sebagainya.
Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat…..
Dia hanya memberi kemewahan dunia saja
maka dia akan ditarik oleh anaknya.

Kedua: Suaminya

Apabila sang suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya.
Bergaul bebas,
menghias diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram…,
apabila suami mendiam diri……
walaupun dia seorang alim yang sholatnya tidak ditangguhkan, puasa tidak tinggal maka dia akan ditarik oleh isterinya.

Ketiga: Abang-abangnya

Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga martabat wanita jatuh ke pundak abang-abangnya…..
jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja sedangkan adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran ISLAM….
tunggulah tarikan adiknya di akhirat

Keempat: Anak lelakinya

Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari Islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak…….
nantikan tarikan ibunya

Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat….
maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka yang sebenarnya. Firman ALLAH SWT:-

“HAI ANAK ADAM PELIHARALAH DIRI MU SERTA KELUARGA MU DARI API NERAKA YANG BAHAN BAKARNYA ADALAH MANUSIA DAN BATU-BATU…”

Hai wanita, kasihananilah ayah anda, suami anda, abang-abang anda serta anak-anak lelaki anda…
kasihanilah mereka dan diri mu sendiri…..
jalankan perintah ALLAH SWT dengan sungguh-sungguh dan dengan ikhlas…

kawan.. Semoga Kita semua tergolong ahli surga yang memasukinya tanpa di hisab.
AMIN…YA RABBALALAMIN

Gara-gara kucing

AIkisah, sepasang suami-istri dikaruniai seorang anak pada tahun pertama masa pernikahannya. Tentu saja, mereka sangat gembira dengan anugerah Allah tersebut karena memiliki anak termasuk salah satu harapan besarnya. Akan tetapi, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Allah Swt. berkehendak menimpakan penyakit aneh kepada sang anak yang masih bayi itu. Berbagai ikhtiar pengobatan telah dilakukan kedua orang tuanya. Namun, pengobatan seakan takberdaya untuk menyembuhkannya, keadaan sang Anak se-makin memburuk.

Tidak hanya keadaan anaknya yang semakin memburuk, keadaan ibu-bapaknya pun menjadi buruk akibat kesedihan dan besarnya energi yang dikeluarkan untuk mengobati anak semata wayangnya itu. "Perasaan buruk itu menyeruak di dalam hati karena kami merasa takberdaya memberikan pengobatan bagi penderitaan anak kami," ujarnya.

Ketika kondisi sang Anak sudah sangat mengkhawatirkan, ada seseorang yang menunjukkan kepada pasangan muda ini seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal. Mereka pun segera mendatangi dokter tersebut. Saat tiba di tempat praktik dokter itu, demam anaknya semakin tinggi.

Dokter itu pun berkata, "Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, kemungkinan besar dia akan meninggal esok hari."

Keduanya kembali bersama sang Anak dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang tubuh sang Ayah memikirkan anaknya hingga kelopak matanya takmampu terpejam tidur malam hari.

Untuk menenangkan diri, dia pun segera shalat dan memohon jalan terbaik kepada Allah. Setelah selesai shalat, dia langsung pergi dengan wajah bermuram durja meninggalkan istrinya yang menangis sedih di dekat kepala anaknya.

Ayah muda ini terus berjalan di jalanan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk anaknya. Tiba-tiba, dia teringat pada sebuah hadits Rasulullah saw. tentang sedekah yang berbunyi, "Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah."

Namun, dia bingung, siapa yang harus dia temui pada waktu malam seperti ini. Dia bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan dikatakan oleh tuan rumah kepada dia jika dia melakukan itu?

Dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba, ada seekor kucing kelaparan yang mengeong di kegelapan malam. Dia pun segera teringat pada pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw, "Apakah berbuat baik pada binatang kami ada pahalanya?"

Rasulullah menjawab, "Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya." (HR Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa pikir panjang, dia pun segera kembali ke rumah, mengambil sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.

Dia menutup pintu belakang rumahnya. Suara pintu itu bercampur dengan suara istrinya yang bertanya, "Mengapa kamu telah kembali dengan cepat?" dia pun bergegas menuju ke arah istrinya dan mendapati wajah sang Istri telah berubah. Dari permukaan wajahnya, terlihat raut kegembiraan.

Wanita muda itu berkata, "Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih dalam keadaan duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba, ada seekor burung hitam yang sangat besar dari langit yang terang hendak menyambar anak kita untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat? Tiba-tiba, muncul seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya terlibat perkelahian sengit. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu karena si burung badannya gemuk. Namun, akhirnya burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi."

Mendengar cerita istrinya, dia hanya tersenyum. Melihat suaminya, sang Istri menatap ke arahnya dengan terheran-heran.

Keduanya lalu bergegas mendekati anaknya. Dilihatnya demam sang Anak sudah mereda dan matanya sudah mulai terbuka. Esok harinya, sang Anak sudah mau makan dan sehat seperti sedia kala.

" Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang-ulang doa ketikaAllah menunda ijabah doa itu. Dialah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya kepadamu, bukan menurutpilihan seleramu. Kelak, pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki. (Ibnu Atha'ilah)"

Cerita indah sang hawa

Bukan niat dan keinginanku bila aku harus terlahir seperti ini. seperti kata ibuku manusia itu terlahir tak ada yang sempurna termasuk diriku, ya aku memang tak sempurna mata ku buta tak dapat melihat. sejak umur tiga tahun aku mulai berteman dengan kegelapan, entah apa pangkal dan sebab semua menjadi hitam dalam pandangan aku tak ingin lagi mengingat. semakin aku mengingat hati ku perih bagaikan tersayat sembilu, jiwaku berontak mengucapkan lafaz " kenapa harus aku ya allah yang mengalami ini " bersimbahlah air mata ku, hingga sampai pagi menjelang tak pernah puas air mata bercucur tanpa henti.

Jangan kau tanya bagaimana rupa ayah dan ibuku, indahnya bumi ini pun aku tak tahu bagaimana bentuknya. yang aku tahu hanyalah suara-suara merdu ketika ayahku menjadi imam di setiap shalat maghribnya, suara-suara tawa riuh kedua saudaraku tercinta, dan suara parau ibuku yang selalu menceritakan tentang kisah-kisah yang terjadi diatas bumi ini. aku tahu betul sebelum ia bercerita ibuku menangis sambil menatapku, dan berubahlah suaranya yang lembut menjadi tercekat menahan isak yang amat sangat. aku hanya mendengar tapi jauh di lubuk fikiran ku hatiku selalu bertanya " oh ibu apakah kau malu mempunyai seorang anak yang tak dapat melihat seperti ku ini..apakah aku menjadi bebanmu dalam setiap perjalanan hidupmu..? bila iya katakanlah padaku agar hatiku lapang tak ada lagi yang aku tunggu di dunia yang gulita ini ibu selain ajal menjemputku.."

Tahu..apa yang paling aku tunggu pada setiap cerita-cerita ibuku..? ya cerita tentang dua insan yang sedang di mabuk asmara, cerita tentang dua insan yang sedang memadu cinta saling mengasihi dan menyayangi. pernah satu kali ibuku bercerita tentang ini, tapi tak pernah usai. di pertengahan suaranya mulai terbata-bata dan memudar menahan tangis yang amat menyiksa, bila sudah seperti itu kami berdua tahu apa pertanyaanya. adakah cinta untuk gadis buta seperti ku ini..? adakah laki-laki yang terpaut dengan gadis cacat seperti ku ini..? dan akupun tersenyum diantara isak tangis ibuku. aku meraba wajahnya, menyentuh pipi nya yang halus dan mengusap air matanya yang mengalir tiada henti, dan aku berkata

" AKU PASRAHKAN HIDUP DAN MATIKU PADA ALLAH IBU. TAK PERNAH AKU MINTA BERLEBIHAN KEPADANYA, APA LAGI MEMINTA SEBUAH CINTA YANG BUKAN TUK MENJADI HAK KU. AKU MEMANG TAK BISA MELIHAT TAPI ALLAH TIDAK BUTA DIA MAHA MELIHAT. TIDUR DI PELUKANMU, ITU SUDAH MEMBUAT KU CUKUP IBU BETAPA CINTA DAPAT AKU RASAKAN, CINTAMU KEPADA DIRIKU IBU. BAHKAN SEJENGKAL JARAKPUN KAU TAK PERNAH JAUH PADA DIRIKU. JANGAN TINGGAL KAN AKU IBU..BERJANJILAH KELAK DI SURGA ALLAH KITA HARUS BERJUMPA DAN BERSAMA LAGI IBU..BERJANJILAH.. "

Dan diantara gelap dan terang mengalirlah air mata yang penuh arti dan makna. pelan ibuku berkata diantara isaknya..

" YA ALLAH PERTEMUKANLAH KELAK KAMI DI SURGAMU YA ALLAH..!"

cerita uang Rp1000 dan Rp100.000

Uang Rp1000 dan Rp100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama di cetak dan diedarkan Bank
Indonesia.Mereka keluar pada saat bersamaan, berpisah dari bank, lalu beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda, terjadilah percakapan.

Rp100.000 : Kenapa badanmu begitu lesu, kotor dan bau amis?
Rp1.000 : karena begitu keluar dari bank, aku langsung ke tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan hingga tangan pengemis. Kalau kamu, kenapa kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?
Rp100.000 : karena begitu keluar dari bank, aku langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di mall dan hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.

Rp1000 : pernahkah engkau mampir ke tempat ibadah?
Rp100.000 : (terdiam) Jarang sih, bahkan banyak di antara kami yang belum pernah.
Rp1.000 : ketahuilah, walaupun keadaanku seperti ini, setiap Jum'at aku selalu mampir di masjid-masjid dan di tangan anak yatim. Karena itu, aku selalu bersyukur kepada Allah SWT. Aku dipandang manusia bukan sebuah nilai, tapi yang mereka pandang adalah sebuah manfaat....

Akhirnya menangislah uang Rp100.000 karena merasa besar, hebat dan tinggi nilainya tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini

KELEBIHAN SURAH AL-IKHLAS

Banyak nama menunjukkan banyak kelebihan. Mengingat Surat ini mengandung akidah yang sangat mendasar, maka keutamaannya cukup banyak. Antara lain sebagai berikut :

1. Hadis riwayat Anas bin Malik, menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa membaca Surat Al-Ikhlas satu kali, seolah-olah dia membaca sepertiga Quran. Barangsiapa membacanya dua kali, seolah-olah dia membaca dua pertiga Quran. Barangsiapa membacanya tiga kali, seolah-olah dia membaca Quran seluruhnya. Dan barangsiapa membacanya sepuluh kali, dibina Allah untuknya sebuah rumah dalam surga terbikin dari permata ya’kut yang berwarna merah.”

2. Sabda Rasulullah Saw yang maksudnya : “Hai Aisyah, engkau jangan tidur dulu sebelum engkau kerjakan empat perkara : 1. Khatamkan Al-Quran, 2. Jadikan semua Nabi membelamu nanti pada hari kiamat, 3. Jadikan semua orang mukmin rela kepadamu, dan 4. Kerjakan Haji dan Umrah.” Kemudian Rasulullah pun shalat, sedangkan Aisyah tinggal ditempat tidur. Selesai Shalat, Aisyah pun berkata : “Rasulullah, tebusanmu ibu dan ayahku, Rasulullah suruh saya mengerjakan empat perkara yang saya tidak sanggup melakukannya pada waktu ini.” Beliau tersenyum, seraya bersabda : ” Apabila engkau membaca Qul Huwallahu Ahad (tiga kali), maka seolah-olah engkau telah mengkhatamkan Al-Quran. Jika engkau membaca shalawat kepadaku dan kepada semua Nabi sebelumku, maka kami nanti akan mensyafaatkanmu pada hari kiamat. Dan apabila engkau meminta ampunkan orang-orang mukmin, maka tentu semua mereka nanti akan rela kepadamu. Dan apabila engkau membaca “Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar, maka sesungguhnya engkau berarti telah mengerjakan Haji dan Umrah.”

Hadis itu menerangkan, kalau mau tidur setelah badan tergeletak diatas ranjang, maka baik dibaca:

Surat Al-Ikhlas tiga kali. Sama pahalanya dengan membaca satu khatam Quran.
Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Nabi-Nabi lainnya, dengan mengucap : Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad Wa ali Muhammad wa’ala jami’il anbiyaai wal mursalin.
Mendoakan orang-orang mukmin dengan mengucapkan tiga kali Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mukiminina wal mukminat.
Membaca raja tasbih tiga kali, yakni : Subhanallah, Walhamdulillah, Walailaha illallah, Wallahu Akbar, Wala haula walaquwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” Apabila dibaca tiga kali tasbih ini, maka sama pahalanya dengan satu kali Haji dan Umrah.

3. Pada suatu hari seorang laki-laki melaporkan halnya kepada Rasulullah Saw tentang kesusahan hidup yang dideritanya. Ia mohon supaya diajarkan amalan singkat untuk menghilangkan kesempitan hidup itu. Maka Rasulullah Saw menyuruhnya supaya setiap kali masuk kerumah sendiri, memberi salam kemudian membaca surat Al-Ikhlas tiga kali. Jika rumah kosong tidak ada orang didalam, maka memberi salam kepada Rasulullah SAW kemudian sambil melangkah masuk dibaca tiga kali surat Al-Ikhlas. Laki-laki itupun mengamalkannya, alhamdulillah lapang rezekinya, melimpah sampai kepada jiran tetangganya.

4. Pada suatu hari Rasulullah Saw sedang duduk dalam mesjid Madinah. Tiba-tiba datang rombongan mengusung jenazah untuk di shalatkan. Para sahabat mempersilahkan Nabi untuk menyembahyangkannya . Beliau bertanya : ” Apakah mayat ini meninggalkan hutang? Mereka menjawab : ” Ya, benar, dia meninggalkan hutang sebanyak 4 dirham.” Lantas beliau bersabda : ” Saya tidak mau menyembahyangkan mayat yang meninggalkan hutang. Shalatkan kamulah dia.” Pada saat itu Jibrilpun datang seraya berkata : “Hai Muhammad, Allah berkirim salam kepadamu. Dia berfirman : “Aku sudah mengutus Jibril menyamar seperti mayat itu dan sudah melunaskan hutangnya. Tegaklah, shalatkan dia karena dia sudah diampuni Allah dan barangsiapa yang ikut menyembahyangkannya , niscaya diampuni Allah pula dosanya.” Nabi Muhammad Saw pun bertanya : ” Hai Jibril, dari mana dia memperoleh kehormatan ini “? Jibril menjawab :”Dia mendapat kehormatan itu, karena setiap hari membaca seratus kali Qul Huwallahu Ahad.” Didalamnya terdapat keterangan tentang sifat-sifat Allah dan pujian terhadap-Nya” Hadis itu menunjukkan barangsiapa membaca “Qul Huwallahu Ahad” seratus kali dalam sehari, maka Allah akan melunaskan hutangnya sebelum mati.

5. Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya :” Barangsiapa membaca surat Al-Ikhlas pada sakit yang membawa kepada kematiannya, niscaya mayatnya tidak busuk dalam kubur, hadis lain menyatakan tidak terfitnah dalam kuburnya, aman dari kesempitan kuburan, dan para Malaikat akan membawanya dengan sayap-sayapnya melalui titian shirotol mustaqim sampai kesurga.”

6. Menurut hadis Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad 50 kali, niscaya diampuni dosanya lima puluh tahun.”

7. Menurut Hadis Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya ” Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali dibina Allah untuknya satu istana didalam surga. Barangsiapa membacanya 20 kali, dibina Allah untuknya dua istana dalam surga. Barangsiapa membacanya 30 kali maka dibina Allah untuknya tiga istana dalam surga. Umar bin Khattab berkata: ” Ya, Rasulullah, kalau begitu akan banyaklah istana kmi dalam surga” Maka Rasulullah Saw bersabda : “Allah lebih lapang (luas) dari pada itu.” Maksudnya, bagi Allah berapapun jumlah istana itu soal mudah.

8. Hadis Anas bin Mali menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad sekali, dia diberkati. Barangsiapa membacanya dua kali dia dan keluarganya diberkati. Barangsiapa membacanya tiga kali, dia, keluarga dan jiran tetangganya diberkati. Barangsiapa membacanya 12 kali, dibina Allah untuknya 12 istana didalam surga. Jika dibacanya 100 kali, maka dihapuskan Allah dosanya (dosa kecil) selama 50 tahun, kecuali pertumpahan darah dan harta benda. Jika dibacanya 200 kali, dihapuskan dosanya 100 tahun. Jika dibacanya 1000 kali, niscaya sebelum mati telah dilihat atau diperlihatkan kepadanya tempatnya dalam surga.”

9. Menurut hadis riwayat Ibnu Abbas, Nabi Muhammad Saw bersabda yang maksudnya : “Tatkala saya dalam perjalanan Israk Mi’raj kelangit, saya melihat ‘Arasy ditegakkan atas 360.000 sudut. Jarak dari satu sudut kesudut lainnya, kira-kira 300.000 tahun perjalanan. Dibawah setiap sudut itu terdapat 12.000 padang pasir. Panjang setiap padang pasir itu dari matahari terbit kematahari terbenam. Disetiap padang pasir itu terdapat 80.000 Malaikat membaca Qul Huwallahu Ahad.” Selesai membaca mereka menyatakan :”Ya Tuhan, kami hibbahkan pahala bacaan kami ini kepada setiap orang yang membaca Surat Al-Ikhlas, baik dia laki-laki maupun wanita.” Para sahabat kagum tercengang mendengarnya. Lantas Rasulullah Saw bertanya :”Herankah kamu, sahabat-sahabatku ? Mereka menjawab : ” Ya,benar kami heran.” Beliau melanjutkan :”Demi Allah yang diriku ditangan-Nya, “Qul Huwallahu Ahad” tertulis disayap Jibril. “Allahush Shomad” tertulis disayap Mikail. “Lam Yalid Walam Yulad” tertulis disayap Izrail. “Walam Yakun Lahu kufuan Ahad” tertulis disayap Israfil. Maka barangsiapa diantara ummatku membaca “Qul Huwallahu Ahad” niscaya dikurniai Allah ia pahala orang yang membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran.” Kemudian beliau bertanya lagi:”Herankah kamu, mendengarnya? . Mereka menjawab:”Ya, benar kami heran.” Lantas beliau bersabda :”Demi Allah yang diriku ditangan-Nya, “Qul Huwallahu Ahad” tertulis di kening Abu Bakar Shiddiq. “Allahush Shomad” tertulis dikening Umar Al-Faruq. “Lam Yalid Walam Yulad” tertulis dikening Usman Zin-Nurain. Dan “Walam Yakun Lahu Kufuan Ahad ” tertulis dikening Ali As-Sakhiy. Maka barangsiapa membaca Surat Al-Ikhlas niscaya dikurniai Allah ia pahala Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

10. Menurut Hadis Al-Baihaqi, dari Umamah Al-Bahili, bahwa Jibril telah mendatangi Nabi SAW bersama dengan 70.000 Malaikat di Tabuk Jibril berkata :”Rasulullah, saksikan jenazah Muawiyah dari Tabuk bersama Jibril dan sejumlah Malaikat lain. Kemudian Rasulullah Saw bersabda :” Jibril, apa sebabnya Mu’awiyah beroleh martabat seperti itu.? Jibril menjawab :”Dia memperoleh kehormatan itu, akibat membaca “Qul Huwallahu Ahad setiap hari, sedang berdiri, duduk, ruku’ dan berjalan.”

***

Demikianlah beberapa kelebihan membaca Qul Huwallahu Ahad. Maka silahkanlah mengamalkannya, dengan ketentuan setiap membacanya, harus dibaca Bismillah. Karena pernah terjadi seorang laki-laki di Mekkah bermimpi, melihat ratusan ekor burung merpati terbang diatas angkasa kota Mekkah, tetapi tak seekorpun berkepala. Keesokan harinya ditanyakannya kepada seorang ahli ta’bir mimpi. Syekh ahli ta’bir mimpi itu menyatakan :”Barangkali anda rajin membaca Qul Huwallahu Ahad, tetapi tidak membaca Bismillahirrahmanir rahim dipangkalnya. “

Bismillahirrahmanir rahim itu hurufnya 19, persis sebanyak Malaikat Zabaniyah penunggu neraka. Barangsiapa rajin membaca Bismillahirrahmanir rahim pada setiap memulai pekerjaan yang dibenarkan agama, niscaya ia terhindar dari ancaman Malaikat Zabaniyah.
#mga bermanfaat :)

Jumat, 08 Juni 2012

10 cara melupakan seseorang


Ini dia tips buat kalian para galawers buat ngelupain seseorang :D
1.  Curhat sama Allah
2.  Maafkan dia.
3.  Buang semua barang2 dari dia *kalo ada* 
     *kalo gk ada ya buang aja dia dr hatimu:p*
4.  Hapus nupenya dihapemu 
    *kalaupun hafal nupenya yaudah derita lo:p*
5.  Hapus semua sms dari dia.
6.  Kalo bisa hapus semua kenangan dengannya 
     #imposible
7.  Diusahakan biar gk ketemu dalam beberapa 
     waktu biar cepet ngelupainnya.
8.  Menyibukkan diri dengan belajar._.
9.  Kumpul bareng temen2 buat sharing.
10. Cari penggantinya. *nyarinya yg lebih munyu2 + 
      minyi2 ya:p

Kamis, 07 Juni 2012

Kesaksian orang mati suri

Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24
Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu
memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa
yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam
Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal
dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil
cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh
tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani
dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan
racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.
Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) .
Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung
dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24
Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya
di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa
dioperasi..

”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘
jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi
obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina
gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina
kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia
dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak
jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar
UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang
ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan
kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam
pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina
memberikan kesaksiaanya.

”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon
penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya
setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand
Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa
ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal
dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah
merasakan mati,” ujar anak yatim itu..

Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.

Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu
seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging,
dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat
mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,”
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh
pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya
berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,”
ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ
Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad,
ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya
dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah
itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan
Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu
besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.
Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa
agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.. “
Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan
lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman
kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu
berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang
pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan
kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam
barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang
mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau
busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari
orang tersebut.

Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,”
sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan
beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia
melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh
dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa
dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan
”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan
ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok.
Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara
17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia
65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah
ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan
berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.”
Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya
berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan
adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak
bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan
kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat
itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan
neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya
bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya
tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya
kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal
shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh
Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi
tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang
menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya
kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan
itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya
berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan
manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang
laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan
baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada
amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab
orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya
lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang
orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia
tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula
oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka
berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu
ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk
dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata
pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah,
orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan
dijawab orang tersebut adalah orang juga suka
membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah
lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka
dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.
Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan
sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang
ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang
mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.
Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang
sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak
itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat
batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya
tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut
adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara
literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana
manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat)
baik,red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan
di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya
mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya
melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum,
saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,”
ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk
melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada
ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut
batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul
khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya
ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.
Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau
sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan
Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia
dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang
sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima
meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini
Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong
kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”

Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang
dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya
ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada
pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal
shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.

”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang
ditunjukkan Allah kepada kita semua, ”
ujarnya.

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang
berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin
beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan
”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat
Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku
(ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali
tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan. (100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat,
dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan
kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu
tidak dapat ditolong (lagi).”

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari
kesaksiaan tersebut. :)

Rabu, 06 Juni 2012

Too Little Too Late

Hari kamis, hari yang melelahkan! 5 bidang study pokok dunia IPA dipelajari hari ini-- Mate, Kimia, B.indo, B.inggris, n Fisika!! --,benar-benar menyebalkan! Tapi, ada 1 hal yang membuatku tak terkalahkan oleh keluhan-keluhanku itu, aku selalu menghadapi hari-hari yang membosankan di sekolah dengan senyum & penuh semangat.. Satu-satunya alasan utamaku adalah.... "Bayu", cowok pujaan hatiku sejak 6 bulan lalu aku duduk di grade 11, yang aku sadari saat ini tengah menjaga jaraknya terhadapku...

Perubahan sikapnya itu amat jelas kurasa, semua ini dimulai sejak 2 bulan yang lalu, tepatnya pada birthday party temanku, Mega.


(Flash back)


~Mega's party at her lux home~

Saat itu, kulihat Bayu sedang berdiri santai di pojokan ruangan, dan karena aku ini dalam masa-masa PDKT, jadi kukira ini kesempatan bagus that i won't to let it go!! So,aku nekat aja nyamperin sosok idamanku itu di tempat ia sedang menikmati segelas bluebarry.


"Hai,", sapaku seakrab mungkin. Bukan berarti SKSD, tapi emang PDKT-PDKTku yang sebelumnya terbilang sukses, karena sekarang buktinya aku bisa berteman baik dengannya. Tapi aku inginkan lebih dari teman! oke, terdengar memaksa, hehe..


"Hai juga..", dia menjawab santai dengan bumbu senyuman andalannya. Senyuman yang membuat aku gak tahan!! So Sweet!


"Sendirian aja nih,,?" aku mencoba untuk basa basi.


"Ya..,iya! Tapi gak ada larangan untuk itu kan? hehe.." lagi-lagi ia menjawab dengan santai plus senyuman, sebelum akhirnya keheningan muncul di tengah-tengah kami.


Aku menatap Bayu dengan tatapan yang tak biasa, mencoba untuk mengisyaratkan perasaanku. Tapi aku ragu, dia paham ga ya? Tapi kayanya impossible deh. Karena aku gak pernah berhasil dalam hal telepati..
Hm.. Entah apa yang ada dipikiranku, rasanya terjadi sesuatu dalam batinku diluar kendaliku..


"Bay," tiba-tiba aku menyerukan namanya.


" Ya? " dia langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. O'ow, mata kami berpas-pasan, bikin aku rasanya pengen meleleh saat itu juga!--tapi engga lah, gue tetap jaga image dengan tetap steyykuLLL..HEHE--


"Gue suka sama lo, Bay." hah? ngomong apa aku barusan?? Bayu yang mendengar ucapanku itu ikut tercengang dengan unbelieveble face, sebelum akhirnya ia reflek tertawa terbahak-bahak!


"hah? hahaha, ada-ada aja lo,Eig!",--Eig, entah kenapa dia memilih untuk memanggilku dengan suku kata itu-- Bayu terlihat bener-bener gak percaya, ia menganggap ini lelucon. Tampak jelas dengan sikap santainya(lagi) ketika kembali meneguk bluebarry di genggamannya dan mulai menggerak-gerakkan kepala mengikuti dentuman musik ritmis yang menggema di ruangan itu.


"Gue serius, Bay! Gue udah tertarik sama lo sejak dari awal kenal sama lo!", aku berusaha meyakinkan Bayu. Nadaku yang lemah lembut(sebelumnya), berubah menjadi agak memaksa. Melihat Bayu kembali tercengang dengan unbelieveble face, aku tau saat ini dia mulai terpengaruh dengan kalimatku barusan. Entahlah apa yang ia pikirkan sekarang.
"Tapi gue gak pernah mengharap buat jadi pacar lo, kok. Yang gue lakuin saat ini, supaya lo tau aja tentang perasaan gue. Setidaknya gue gak terlalu tersiksa harus terus memendamnya.." tuturku panjang lebar. Ini penuturan yang gak pernah aku rencanakan, setidaknya aku merencanakan penuturan yang lain.
Bayu mulai terlihat kehabisan kata-kata. Ia bergerak salah tingkah dengan senyum yang di buat-buat.--Loh? yang seharusnya salting kan gue?--.


Aku tau ini gila. Aku sudah mengungkapkan perasaanku dengan argumentasi tak lengkap! Tapi mau gimana lagi, aku udah terlanjur lepas kendali.

"Hey, Bayu! Gue kira lo ga bakalan dateng.." Mega tiba-tiba muncul. sapaannya dibalas senyum oleh Bayu. "Vin, ikut gue bentar yuk!" sambungnya lagi seraya menarikku menerobos kerumunan para tamu di tengah ruangan. "Bye, Bay...".


***


Sejak saat itulah, aku sadari antara aku dan Bayu mulai berjarak. Tak seperti biasanya lagi. Bahkan sejak saat itu pula, tak pernah sekalipun aku mendengarnya mengucapkan atau menyerukan namaku lagi. Aku tau hal seperti ini akan terjadi. Tapi aku tak tau kalau ternyata rasanya amat sangat sakit!
Dan kini,aku mulai menyesali kebodohanku itu.Harusnya aku gak segitu PD-nya mengungkapkan perasaanku, karena ajaib Bayu mau menerima aku yang gak punya daya tarik sedikitpun!


"Oke. Seperti yang sudah kita setujui. Sekarang saya akan membagi kelas ini ke dalam 8 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 anggota." kata Guru Fisika yang saat itu mengajar pada jam ke 6-7 di kelas kami. Kalimatnya itu membangunkanku dari renungan gak pentingku sejak tadi. "Sekarang dengarkan baik-baik pembagian kelompoknya!" ,lanjut bu guru.


"Huhhh..Gue benci Fisikaaaaaa!" aku mendengus sambil bermalas-malasan di atas meja. Sebenarnya bukan Fisika aja yang aku gak suka, tapi semua pelajaran hari ini. "ooh, I hate hari kamis..!".


"Dasar pemalas!", celetuk Mega yang duduk di bangku sebelahku. Tak kuhiraukan, ucapannya memang benar.

Ibu guru terus berkoak-koak di depan kelas sambil menyebutkan nama-nama satu persatu. Tapi aku terus memusatkan pandangan pada Bayu yang hanya berjarak 9 meter di arah jam 11 dari tempat dudukku.


"Kelompok 3. Mega Damayanti, Bela Andria, Vinny Eignalia," namaku diserukan, aku masuk di kelompok 3 bersama dengan Mega & Bela.--Syukurlah ada Mega, jadi aku tak perlu pusing-pusing memikirkan tugas diskusi ini. hehe--


"Putra Pratama, dan Bayu Nandito." sambung bu guru.


"Hah? Aku satu kelompok sama Bayu? Wah, gawat ! --atau juga bisa dibilang aji mumpung! --hehehe." kekehku dalam hati sembari mengambil tempat duduk di meja diskusi yang telah ditetapkan.


5 menit berlalu, diskusipun telah berlangsung dengan baik, sebelum akhirnya aku turun tangan.


"Kayanya ini harus pake rumus differential deh," ucap Mega memutuskan.


"Differential gimana?Sedangkan yang diketahui percepatan sudut! Ini harus pake rumus integral kale," sahutku menyanggah ucapan Mega setelah melirik soal yang ada di buku.


"Heh Mrs.pemalas, kan yang ditanya posisi sudut! Jadi yang di pake tuh rumus DIFFERENTIAL!" balas Mega dengan nada yang sedikit ditekan. Sementara itu 3 orang lainnya (Bayu, Bela, & Putra) terdiam, atau lebih tepatnya tercengang mendengar perdebatanku dan Mega.


"Gue malas bukan berarti bego'! Karena yang ditanya posisi sudut, jadi harus 2x diintegralkan..!!" aku semakin ngotot dengan argumentasiku. Dan entah kenapa aku begitu yakin dengan argumentasiku yang belum tentu benar itu.


Dan bla bla bla... Aku dan Mega terus berdebat tanpa ada ujungnya. Kami sama-sama mempertahankan argumentasi masing-masing hingga akhirnya diskusi tak lagi tentram.


"Oke oKE!! Tolong yang beragumen 1 orang aja. Setidaknya argumen selanjutnya kita coba nanti kalau memang diperlukan.!" Bayu tiba-tiba angkat bicara, mungkin dia mulai muak dengan perdebatanku dan Mega. Tapi kata-katanya itu.... seolah tertuju kepadaku.


Aku pun terdiam. Aku mulai berkeyakinan bahwa teguran Bayu tadi memang untukku. Secara, argumentasiku tadi memang lebih berpotensi salah dibandingkan dengan argumen Mega.


Bayu yang aku dengar adalah sang Juara Umum 3 pada grade 10, kini mulai mengambil peran penuh dalam diskusi, diikuti Mega dan 2 orang lainnya. Sedangkan aku, tak bernafsu untuk berkutik lagi.


3 menit berlalu, aku hanya mencoret-coret selembar kertas dengan coretan tak jelas. Tak kupedulikan lagi diskusi yang mulai terasa tak nyaman bagiku. Entah apa yang aku pikirkan, yang aku tau hanyalah sedikit rasa tak senang dihati ketika mengingat ucapan Bayu tadi.
Ah, ga masuk akal!


Tak lama kemudian, aku meninggalkan meja diskusi dan duduk dibangku lain yang tak berpenghuni. Berharap bisa memaksa diri untuk tidak tersinggung tak jelas.
"Gak pasti juga kan kata-kata Bayu tadi itu khusus buat gue?? huft....!".


Diskusi akhirnya selesai tanpa harus aku campur tangani. Kehadiranku emang gak terlalu dipentingkan dalam kelompok itu.
Setelah pelajaran Fisika, di ganti dengan pelajaran Biologi di jam 8-9. Aku memilih untuk bolos ke perpustakaan yang ada dilantai 2 daripada harus terkantuk-kantuk dikelas ketika guru Biologi menjelaskan.


***


TeeeeeeeeeeeeeeT...
Bunyi bel yang panjang dan bergema, menyentakkan otakku yang sedang tertidur lelap di perpustakaan.


"Perasaan gue baru tidur 2 menit ,eh ternyata 2 jam. Hoaaaaamz! ",kataku seraya melirik jam tangan di pergelanganku.


"Hoaaaaammzz!!" aku menguap lagi sambil menarik otot-ototku. "Duh, besok gue bolos ke UKS aja deh, bisa tidur dengan nyaman! huhh!" ,keluhku ketika merasakan nyeri di hampir seluruh tubuh. Bayangin aja, tidur dalam posisi duduk selama 2 JAM! it's so nice! You must try it!


10 menit kemudian, aku keluar dari perpustakaan. Keaadaan koridor-koridor sudah sepi. Kuturuni 12x2 anak tangga menuju lantai 1 sambil menggerutu, "kayanya cuma gue yang tersisa.".


"Eig," tiba-tiba kudengar suku kata itu. Siapa lagi kalau bukan Bayu, hanya dia yang memanggilku dengan seruan itu.


"Ya?" sahutku sambil menghentikan langkah dan berpaling ke arah Bayu yang ada dibelakangku. "Eh, kok lo disini? gak pulang?" tanyaku dengan intonasi agak sinis. Masih terkait dengan kejadian saat pelajaran Fisika tadi.


"Gue cuma mau minta maaf kalau kata-kata gue tadi sempat nyinggung perasaan lo." katanya sembari mendekatiku.


Aku hanya mencuatkan alisku sebelah. Ternyata di sadar kalau aku tersinggung.


"Gue bener-bener gak ada maksud buat kaya' gitu, tapi..."


"Udahlah,, biasa aja kali. Gue juga udah lupa. Lagian, gue rasa wajar aja lo ngomong gitu. Kalau enggak, mungkin diskusinya tadi gak bakal selesai-selesai." ujarku lagi-lagi berbanding terbalik dengan yang ada dipikiranku sebenarnya.


"Thank's" ia tersenyum dengan senyuman yang khas.


"yupz.." aku membalas senyumnya dan kemudian kembali menuruni anak tangga.


Zzzzshhh.. Tiba-tiba angin berhembus langsung menyentuh ulu hatiku. "Buset dah, panas-panas gini ada angin dingin!?"


"Love You Too...."


Aku menghentikan langkah, what sound is it?


"hahaha, gara-gara angin misterius gue jadi berhalusinasi!!!" spontan aku make a LOL sambil kembali melanjutkan langkah.


"Lo gak berhalusinasi, Eig!" seru Bayu yang ikut menuruni anak tangga, dia berada tepat di belakangku.


"Maksud Lo?" aku berpaling padanya dengan tampang unbelieveble.


"Gue minta maaf udah buat lo kecewa karena gak respon dengan pernyataan lo waktu itu. Jujur, sebenarnya waktu itu gue kaget. Gue gak tau harus bertindak apa. Tapi,, gue juga mau lo tau, sebenarnya gue juga sayang sama lo." tutur Bayu tepat di hadapanku, tapi entah kenapa rangkaian kata-katanya itu seperti berasal dari negeri antah berantah yang teramat jauuuuh namun amat sangat dekaaaat di hatiku.--huumm, apa cinta selalu menimbulkan efek gaje kaya' gini ya?--


"Hahaha, jangan minta gue untuk percaya dengan kata-kata lo!" aku menanggapinya sebagai lelucon. Tapi itu tak mengubah raut wajah Bayu yang terlihat spiritless.--Mungkin ini karena perasaan bersalahnya ke gue!--


"Sekali lagi, gue minta maaf!" ,ucapnya dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri.


"Gue udah bilang itu biasa aja, jadi lo gak perlu minta maaf mulu!" kemudian aku berjalan sedikit menjauh darinya.


"Bukan hal itu, tapi gue minta maaf karena gak pernah punya kesempatan untuk ngebahagiain lo dengan cinta ini." lagi-lagi intonasinya membuat bulu kudukku merinding.. Ni cowok apa-apaan sih?! Kata-katanya yang lebay membuatku berasa ingin muntah!


"Bay, Lo gak usah ngaco' gitu ah! Gue tau kalau lo tuh gak pernah suka sama gue. Dan ucapan lo tadi gue yakin just a kidding, didn't it?", aku mulai menekankan intonasiku. Mengekspresikan bahwa aku cukup muak dengan lelucon ini.


"Dan kalimat lo yang terakhir tadi, itu gak perlu and gak seharusnya lo ucapkan! Gak lucu, and gak akan merubah apapun! Right??!" bentakku pada Bayu yang hanya memajang innocense face.


Aku mulai kesel dengan sikap Bayu yang entah kenapa terasa seperti mempermainkan aku. Apa dia tak memikirkan apa jadinya kalau aku mendengar ucapan-ucapannya itu? Apa dia sebegitu bodohnya????? Atau aku yang terlalu hyperbolys? hah, entah lah, yang jelas sekarang pikiranku kacau.


Kemudian aku pergi meninggalkan Bayu yang masih berdiri di tempat itu. Tak ku alihkan pandanganku padanya,aku terus menuruni anak tangga dan menyusuri koridor yang sudah sepi,menuju kelasku untuk mengambil tas sambil terus menggerutu dalam hati.


"Apa-apaan sih? kenapa jadi kya ini? dan kenapa juga harus kya ini?? Tak punya kesempatan untuk membahagiakan gue? Apa maksudnya itu? Kenapa dia harus ngomong kya itu? Gue bener-bener gak paham! Apa sih yang ada di pikiran tuh anak? hah!!" aku terus bergerutu dalam hati yang super tersayat-sayat. Ya, hiperbol... tapi emang kenyataannya gitu. Aku benar-benar terluka dengan kejadian hari ini. "I hate hari kamis!!!", teriakku didalam kelas.


~~Trilililittt~~ ringtone Hp.
Mega Bawel's calling...



"Ada apa, Ga?"


"Vin, lo dimana sih?" suara Mega terdengar panik dan histeris. kenapa lagi nih anak??


"Gue masih di kelas! Lo kenapa??"


"Vin,, Bayu!! Bayu meninggal!! Dia kecelakaan didepan gerbang sekolah, and.. he was die...." Mega semakin histeris.Nih anak ngomong apa sih?


"Haha, ngarang Lo! Gue baru aja ngobrol sama Bayu! udah deh, gak usah usil !!"


"Gue gak ngarang! Gue serius, Vin. Sekarang gue lagi ikut ambulan ke rumah sakit!! Vin, gue minta lo kabarin keluarganya ya!".


Aku tercengang, Mega bukan tipe cewek yang suka lelucon. Dia juga gak ahli dibidang drama. Jadi, mustahil kalo dia ngarang.

"Vin? lo denger gue kan?? "


"Tapi.... Tadi gue emang baru aja ngobrol sama Bayu!" Kusadari airmataku mulai menetes. Antara percaya dan tak percaya.


"Vin?" seruan Mega diseberang ponselku terdengar semakin menjauh..


Hatiku mulai bergemuruh, what's going on? Kurasakan kepalaku sedikit berkunang-kunang. Kakiku terasa sangat berat untuk melangkah. Kemudian gelap... Semakin gelap.. sebelum akhirnya aku menyadari kehadiran sesosok pria di depan pintu kelas ,"Bayu??...".. Kemudian aku merasakan tubuhku amatlah lemah,
BRUAAAKK!!!, kusadari tubuhku terjatuh dilantai, sebelum akhirnya semua menjadi benar-benar gelap....


Bayu, forgive me...


******** The End ********

Just Your Self

Tahukah dirimu..
Hatiku berdebar saat kau duduk di sampingku..
Nafasku bergetar saat kau tersenyum menatapku..

Rasa gembira saat ku baca sms_mu,
rasa tak sabar saat menanti balasan sms_mu,
rasa bingung ketika harus membalas sms_mu dengan harapan kau punya alasan untuk membalasnya lagi..

Tahukah kau semua itu ???

Dan apabila jawabannya adalah "ya" , maka bagaimana denganmu?
Apa kau merasakan hal sama dengan yang kurasakan sejak aku mengenalmu?
Dan bagaimana pula kau akan merespon perasaanku ini?

Akankah kau membalasnya?
Akankah kau membuat semua impianku untuk memilikimu, memelukmu, mengecup bibirmu, menjadi kenyataan??

Atau sebaliknya..

Kau akan mengabaikan perasaanku,
menganggapnya angin lalu yang tak berarti,
kemudian menjauh dariku,
meninggalkanku,
dan menganggap tak pernah mengenalku??

Entahlah..
Aku tak tahu apa jawaban yang sebenarnya dari tiap pertanyaan yang timbul dibenakku..

Ku serahkan semua pada Yang Maha Kuasa..

Kuyakin Dialah pemberi jawaban yang terbaik..

Just Because Love

Suasana kampus sudah sepi….

Sore itu, kulihat Arin terburu-buru meninggalkan kampus. Namun belum sempat ia keluar gerbang, aku mencegatnya. Aku tahu ada yang disembunyikannya dariku.

“Rin ! Tunggu!”, aku menahan langkahnya dan ia terlihat panik seperti orang ketakutan. Arin terus melawanku, ia tetap ingin pergi, namun aku tetap menghalanginya. “Lo kenapa sih??! Lo tuh berubah, jadi aneh, aneh banget! Apa ini ada hubungannya dengan Dio?”

“Jangan sebut-sebut nama baj*ngan itu lagi!”, Arin menjawab dengan nada yang ditekankan, airmatanya berlinang.

“Tapi ini gak normal, Rin! Sebenernya lo kenapa sih? Apa lo ga sadar sikap lo akhir-akhir ini makin aneh. Lo jadi tertutup sama gue! Gue ini masih sahabat lo, kan?!” Arin terdiam, ia tak berani menatap mataku.

Setelah kuprhatikan, dari tadi ia mendekap erat tasnya, seperti ada sesuatu di dalam tas itu. “Apa yang lo sembunyiin di dalam tas lo?” tanyaku pelan.

“Gak ada !”, Arin tampak panik dan mulai kabur lagi, namun lagi-lagi kuhalangi. “Udah deh, lo ga usah sok peduli sama gue!”

“Gue gak sok, tapi emang peduli! Sekarang gue mau lihat apa isi tas lo!”, aku mencoba merampas tasnya. Setelah terjadi tarik-menarik, akhirnya tas kulit import bercorak garis itu terjatuh dan menumpahkan semua isi yang ada di dalamnya. Dan ternyata…. “Rin, lo make??!”

Aku kaget melihat barang-barang yang berjatuhan dari isi tas itu. Puluhan pil ekstasi, sebuah jarum suntik, dan serbuk-serbuk aneh lainnya yang aku tahu pasti itu narkoba!

Arin langsung memasukkan barang-barang tersbut kembali kedalam tasnya, kemudian menatapku “Gue hancur, Nit! Gue hancur sejak Dio nyampakkin gue gitu aja, terlebih dengan alasan yang sulit buat gue terima..”, nadanya miris, tatapannya tajam ke arahku, airmatanya menetes.

“Gak Rin, lo gak boleh kayak gini! Dio itu emang gak pantas buat lo dan gak seharusnya lo jadi berantakkan kayak gini Cuma gara-gara dia!”

“Bukan Cuma gara-gara dia, tapi juga karena gara-gara lo! Hubungan gue dan Dio ga akan rusak kalo dia gak pernah jatuh cinta sama lo!”

Aku kaget mendengar perkataan Arin yang tak bias kupercaya. Bagaimana mungkin???

Arin langsung pergi meninggalkanku. Berlalu dengan mobil merah pemberian terakhir orangtuanya. Tak lama kemudian, dari arah yang berbeda kulihat Dio dan teman-temannya sedang bersenda gurau, tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri mereka.

“Dio, gue mau ngomong sama lo!”, dia menatapku…

“Hai Nita, uda lama kita ga ngobrol…” katanya cengengesan.

PLAKK!! Tak dapat kutahan, tamparanku langsung mendarat di pipi cowok berkulit putih yang terkenal playboy itu. “Lo gak punya otak ya?!”

Dio terlihat bingung, “Lo kenapa sih, Nit? Salah gue apa? Kenapa lo tiba-tiba marah-marah kaya gini?”

“Kalo gue sebut nama Arin, apa lo bakal sadar apa yang udah lo lakuin ke dia? Apa yang udah lo lakuin sampe sekarang tuh hidupnya hancur?! Dia sekarang jadi pemake! Itu gara-gara lo nj*r ! Sarap lo ya! Dan sekarang dia udah ngejauhin gue gara-gara………!” tenggorokkanku tercekat, rasanya benar-benar kelewatan!

“Gara-gara kenyataannya gue cinta sama lo?”, Dio melanjutkan kalimatku.. “Nit, gue udah coba jelasin ke Arin soal perasaan gue, tapi..”

“Tetep aja lo tu bangs*t!”, aku meninggalkannya…

Aku benar-benar bingung dengan situasi ini. Arin satu-satunya sahabat terbaikku, sekarang semuanya hancur hanya gara-gara satu cowok. Jujur aku prihatin dengan keadaan Arin yang sampai terjerumus ke lembah narkoba. Aku harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan Arin, Arin sahabatku yang dulu, yang selalu ceria dan selalu terbuka padaku. Mengenai Dio, apa benar dia mencintaiku? Ah, persetan dengan cowok playboy itu.

***

Malam harinya..

Tiba-tiba aku mendapat telepon dari rumah Arin, bukan dari Arin ataupun orangtuanya, namun dari Bi Susi, satu-satunya orang yang menemani dan menjaga Arin di rumah sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.

Bi Susi menyuruhku menemui Arin di rumahnya, dia memintaku untuk membujuk arin keluar kamar karena sejak balik dari kampus sampai malam ini ia belum makan. Bi Susi khawatir dengan keadaan gadis berusia 19 thn itu.

Setelah tiba di rumah mewah warisan orangtua Arin, aku langsung menuju kamarnya dan membujuknya untuk membuka pintu. Namun usahaku sia-sia2, sedikitpun Arin tak memberiku respon.

“Mba Nita, sudah hampir seminggu non Arin selalu begini, bibi khawatir mba.. Bibi takut terjadi apa-apa dengan non Arin..” isak bi Susi sambil mengusap airmatanya. Ia sudah menganggap Arin seperti anaknya sendiri.

Akupun khawatir, apalagi setelah menyadari bahwa aku turut andil dalam hancurnya hubungan Arin dan Dio. Tapi aku bisa apa? Aku bingung!

Setelah beberapa menit menunggu respon Arin dari dalam kamar yang tak kunjung datang, akupun berinisiatif untuk mendobrak pintu kamarnya, tapi ya gak mungkinlah! Aku kan cewek, mana kuat ngedobrak pintu? Akhirnya kucoba cara lain, mungkin jendela kamarnya tidak dikunci.

Yaaa dan akupun berhasil bersikap bagaikan maling yang diam-diam menyelundup ke kamar Arin. Seperti tak ada kehidupan, tak ada cahaya didalam kamar itu. Gelap. Dan dimana Arin?

Setelah kunyalakan lampu kamar itu, aku shock!! Arin tergeletak di pojok kamarnya dengan keadaan yang tak ingin kulihat dari Arin. Ia benar-benar berantakkan. Dan kamar ini benar-benar kacau! Putaw, sabu, serbuk2 lainnya tergeletak dimana-mana. Sepertinya Arin baru saja melakukan pesta narkoba untuk dirinya sendiri. Air mataku menetes, kulihat Arin bertingkah bagaikan orang asing yang sesekali tersenyum, sesekali mengerang, bibirnya pucat, tatapan matanya kosong..

“Rin, Lo kenapa jadi kayak gini sih…???”
Arin hanya tersenyum menatapku dengan tatapan hampa. Aku memeluknya erat “Rin, cukup ini pertama dan terakhir gue lihat lo kaya gini! Lo harus terlepas dari semua ini! Harus!!”

Malam itu, aku memilih untuk menemaninya. Sambil merapikan kamar yang benar-benar berantakkan ini. Tak sengaja aku menemukan foto Dio yang sudah tercoret-coret dengan tinta merah. Tak bisa kubayangkan bagaimana hancurnya perasaan yang dirasakan oleh Arin, tapi aku tahu, ini pasti sangat menyakitinya.

****

Esok paginya di rumah Arin..

Arin terbangun dan menyadari keadaan kamar sudah berubah.

“barang-barang gue?!!!?” ia panik , ia mulai mengobrak-abrik kamar sampai semua kembali berantakkan.

“Anj*ng!!!!!!!!”

Arin marah besar, ia langsung menghampiri Bi Susi yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan.

“Pagi Non, sudah bangun? Ayo mau sarapan dulu? Bibi udah buatin roti selai kesukaan Non Arin”

“Lo buang kemana barang-barang dikamar gue?!”, Arin langsung membentak Bi Susi yang langsung kaget melihat Arin membentaknya. “JAWAB!!”

“Maaf Non, tapi bibi ga tahu apa-apa soal barang-barang dikamar non. Bibi kan ga pernah masuk lagi ke kamar Non sejak…”

“Bullshit !!! sekarang lo kasih tau ke gue dimana lo umpetin barang-barang gue?!”

“Sumpah Non, bibi ga tau apa-apa…” bi Susi pun menangis.

Arin terdiam sesaat… “Oke, kalo emang bukan Lo yang masuk ke kamar gue, sekarang kasih tau siapa yang semalam bongkar-bongkar kamar gue???!! Jawab !”

“Bibi gak tau Non, semalam cuma mba Nita yang…”

“oh jadi Nita??!! Lo nyuruh Nita datang kesini???? Gue kan udah bilang sama lo gak ada yang boleh datang ke rumah ini, siapapun!”

“maafin bibi, Non. Tapi semalam keadaannya benar-benar berbeda, bibi hanya…”

“Denger baik-baik ya! Ini hari terakhir lo nyiapin sarapan buat gue! Besok lo boleh angkat kaki dari rumah ini!”

Setelah membentak bi Susi, Arin kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menghampiri Nita di kost-kostannya. Dan bi susi hanya bisa mengelus dada, ia menangis pilu..

***

-Nita vers.-

Semoga apa yang kulakukan ini akan merubah sesuatu, aku benar-benar berharap Arin bisa kembali lagi seperti yang dulu. Segala jenis narkoba yang kudapat dikamar Arin sudah ku buang ke laut. Arin gak boleh pake barang-barang haram itu lagi. Sedikit banyaknya, aku yakin pasti akan ada yang berubah…

Brrrmmmmzz….

Tiba-tiba aku mendengar suara mobil didepan kostsan. Dan sepertinya itu…. “Arin??”

Aku langsung buru-buru membuka pintu kamar. Berharap Arin sudah berubah dan menyadari bahwa ia lebih baik tanpa barang-barang harap itu.

Ketika melihatku, ekspresi wajah Arin benar-benar marah. Ya Tuhan, semoga Arin bisa mengerti kenapa aku membuang barang-barang haram itu….

“Lo maunya apa sih Nit?? Belum cukup lo ganggu hidup gue? belum cukup lo ngerusak hubungan gue dengan Dio? Sekarang lo mau ngerusak kebahagian yang sedang gue nikmati belakangan ini?????”

“Rin?? Lo nyadar gak sih apa yang barusan lo bilang?? Gue ini sahabat lo Rin! Kita udah kenal sejak SMP! 8 tahun kita susah senang bareng! Cuma gara-gara satu cowok brengs*k kaya Dio lo tega nuduh gue ngerusak hidup lo????!”

“Gue ga nuduh lo Nit! Tapi emang kenyataannya kaya gitu! Terserah deh ya, gue ga peduli lagi tentang persahabatan kita. Menurut gue semuanya udah hancur! Sekarang  gue minta lo balikkin barang-barang gue yang udah lo ambil..” intonasi Arin melambat…

“Gak, lo tetep sahabat gue Rin. Gue gak peduli lo mau nganggep persahabatan kita masih ada atau tidak. Gue tetep sahabat lo! Dan gue ga akan balikkin barang-barang haram itu karena gue ga mau lo semakin hancur, Rin!”

“Tapi gue udah terlanjur terjerumus Nit! Percuma lo mau bilang apa juga gue tetep butuh barang-barang itu! Kalo gak gue bisa mati!”

“Lebih baik lo mati dari pada gue harus liat jadi pecandu narkoba! Lo gak tau kan gimana sakitnya hati gue semalam waktu lihat lo sakaw?! Lo bener-bener menyedihkan dan gue gak mau lo kayak gitu!”
Emosiku memuncak, kata-kataku tak dapat di-rem. Hatiku sakit dituduh sebagai sahabat perusak hidup orang.

Arin terdiam mendengar kalimat terakhirku tadi. Lalu tersenyum dan berkata, “well, kalo emang menurut lo lebih baik gue mati…”

“Rin, bukan gitu maksud gue…”

Arin pergi, dan aku tak menghalanginya “Lo harus ngerti Rin, sebagai sahabat, gue sayang sama lo!”
Arin memutar balik mobilnya, meninggalkan halaman kost-an ku dengan mobilnya.. Suasana kembali sepi.. Sesaat hanya terdengar lalu lalang kendaraan dijalanan. Mendadak perasaanku tak enak..

DHUARRRKK!! TIIIINNTTTT Tiiiiiinnnt!!!!

Tiba-tiba terdengar keributan dijalan raya yang berada tepat didepan kost-an ku, aku berlari mencoba melihat apa yang terjadi. Ibu-ibu setempat sudah histeris “kecelakaan!”

“mobil yang merah itu yang nabrak!”

“iya ya, sepertinya mobil itu memang sengaja menabrak truk pengangkut barang itu”

Mobil merah…….

Aku benar-benar penasaran. Dan setelah tiba di TKP, ternyata apa yang kutakutkan terjadi. Itu mobil Arin.

“ARIIN!!!!!!” Aku histeris, ingin kuhampiri Arin yang terlihat sekarat didalam mobil yang sudah setengah terbakar, namun warga setempat menghalangi karena takut kendaraan itu akan meledak.

Jadi ini maksud kalimat terakhir dari Arin… Bukan, itu bukan kalimat Arin, tapi aku yg mengucapkannya… ‘lebih baik mati…’

“BODOH!!!!!!”

Tak ada yang bisa kulakukan lagi.. Arin sudah tiada.. maafkan aku Arin.. maaf :(

***
Kisah ini, konyol… Hanya karena Cinta, aku kehilangan sahabatku,, sedangkan cinta itu sendiri, ‘Dio’, ia bahkan tak menghiraukan semuanya.. Sekarang Dio sudah bahagia denga pacar barunya. Dan mengenai apa yang dikatakan Arin waktu itu, bahwa Dio mencintaiku, itu hanya omong kosong.. Mungkin itu hanyalah alasan Dio supaya bisa memutuskan hubungan dengan Arin...

Ya Tuhan, semuanya benar-benar berakhir sia-sia...

maafkan aku Arin, semoga kau tenang disana…

~The End~